KADIN: Pasar Afrika Sangat Potensial

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan perundingan dagang dan investasi dengan Afrika cukup menjanjikan. Apalagi hingga kini masih banyak kesempatan untuk memaksimalkan potensi yang ada untuk perdagangan di pasar non tradisional itu
Rayful Mudassir | 15 April 2018 18:44 WIB
Alat pengangkut kontainer (Reach Stacker) dioperasikan untuk memindahkan kontainer ke atas truk, di Pelabuhan Cabang Makassar yang dikelola Pelindo IV, Selasa (20/2/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA- Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan perundingan dagang dan investasi dengan Afrika cukup menjanjikan. Apalagi hingga kini masih banyak kesempatan untuk memaksimalkan potensi yang ada untuk perdagangan di pasar non tradisional itu.

Menurut Shinta sejumlah potensi besar yang dapat digarap untuk pasar tersebut seperti ekspor produk makanan dan minuman. Selain itu tekstil dan produk tekstil dan ekspor crude palm oil juga dapat dikembangkan di sana.

“Banyak yang mereka butuh dan Indonesia bisa mensuplai,” kata Shinta kepada Bisnis, Minggu (15/4/2018)

Menurut Shinta dengan adanya PTA yang dimulai dengan sejumlah negara Afrika bakal bermanfaat terhadap perluasan pasar. Pasalnya langkah tersebut bakal membuat perdagangan di pasar-pasar tersebut menjadi nol tarif atau membuat tarif perdagangan menjadi lebih rendah.

“Saat IAF 2018, BUMN juga banyak ke sana untuk bernegosiasi untuk rencana kerjasama pembangunan infrastruktur seperti perawatan pesawat, pembangunan fasilitas produksi dan perakitan, dan banyak pembangunan smelter,” ujarnya.

Seperti diketahui, Indonesia telah menyepakati dimulainya perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan tiga negara di benua Afrika yakni Mozambik, Tunisia dan Maroko. Kesepakatan tersebut dicapai saat perhelatan Indonesia Afrika Forum (IAF) di Bali 10-11 April 2018.

Indonesia meyakini perluasan akses pasar di negara-negara tujuan ekspor nontradisional, khususnya Afrika menjadi fokus kebijakan perdagangan pemerintah setelah presiden Joko Widodo bertemu dengan beberapa kepala negara di Afrika pada Indian Ocean Rim Asociation (IORA) Summit Maret lalu.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Mozambik Ragendra de Sausa. Setelah itu, kedua menteri melakukan Joint Statement dan sepakat untuk meluncurkan secara resmi dimulainya proses perundingan Indonesia–Mozambik PTA.

“Indonesia dan Mozambik sepakat untuk mengawali pembahasan PTA guna mengembangkan hubungan ekonomi yang lebih terstruktur serta meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan pertukaran informasi,” kata Enggar dalam keterangan resminya, Sabtu (14/4/2018).

PTA Indonesia–Mozambik nantinya dapat memfasilitasi para pelaku usaha, termasuk usaha kecil dan menengah. Selain itu, kami percaya bahwa perdagangan kedua negara akan meningkat dengan PTA.

Total perdagangan Indonesia–Mozambik sebesar US$82,2 juta pada 2017. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia sebesar US$54,1 juta dan impor Indonesia sebesar US$28,1 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar US$26 juta.

Mendag Enggar juga telah melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Mounia Boucetta. Pada pertemuan tersebut, Wamen Boucetta mewakili Pemerintah Maroko menyampaikan dukungannya atas rencana PTA yang diusulkan Indonesia.

“Maroko mendukung usulan Indonesia untuk melakukan kerja sama PTA. Untuk itu, diharapkan sebelum kunjungan misi dagang Indonesia ke Maroko bulan Juni 2018, delegasi Indonesia diundang ke Maroko untuk melakukan pembahasan persiapan peluncuran PTA,” jelas Mendag.

Maroko merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang menjadi hub ke pasar Afrika. Total perdagangan IndonesiaMaroko mencapai US$154,8 juta pada 2017. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia ke Maroko sebesar USD 86 juta, dan impor Indonesia dari Maroko sebesar US$68,8 juta. Dengan demikian, Indonesia memperoleh surplus perdagangan US$17,1 juta.

Pada saat yang bersamaan dengan peluncuran perundingan PTA Indonesia–Mozambik, di ruangan berbeda dilakukan pertemuan pendahuluan antara delegasi teknis Indonesia dan Tunisia untuk membahas PTA.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Perundingan Bilateral Kemendag Ni Made Ayu Marthini bersama Direktur Hukum dan Perjanjian Ekonomi Kemlu Amrih Jinangkung. Sedangkan, Delegasi Tunisia dipimpin oleh Duta Besar Tunisia Mourad Bellhassen. Dubes RI untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti, turut hadir pada pertemuan ini.

“Pertemuan persiapan di Bali berlangsung baik dan lancar dan kedua delegasi merekomendasikan untuk segera memulai pembahasan PTA antara Indonesia–Tunisia. Kami percaya bahwa PTA ini dapat memfasilitasi dan mendorong para pelaku usaha kedua negara untuk meningkatkan perdagangan. Tunisia merupakan mitra yang strategis dan dapat menjadi pintu masuk ekspor ke negara-negara di kawasan Afrika Utara,” jelas Made.

Total perdagangan IndonesiaTunisia tahun 2017 sebesar US$88 juta. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia ke Tunisia sebesar US$55,2 juta dan impor Indonesia dari Tunisia sebesar US$32,8 juta. Artinya Indonesia surplus sebesar USD 22,4 juta.

“Agar dapat segera memulai perundingan, Delegasi Tunisia mengundang Delegasi RI untuk memulai putaran pertama pada bulan Juni 2018 dan kedua delegasi berharap perundingan dapat diselesaikan tahun ini juga,” kata Made.

Tag : ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top