Paramount Land Siap Gandeng Pengembang Asing

Paramount Land masih memiliki lahan di dua kawasan dekat Gading Serpong, masing-masing seluas 200 hektare (ha) dan 600 ha, untuk dikembangkan menjadi kawasan baru.
Anitana Widya Puspa | 13 April 2018 06:48 WIB
Paramount Land - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Paramount Land masih memiliki lahan di dua kawasan dekat Gading Serpong, masing-masing seluas 200 hektare (ha) dan 600 ha, untuk dikembangkan menjadi kawasan baru.

Managing Director Paramount Land Andreas Nawawi mengatakan untuk kawasan seluas 200 ha, sudah ada pengembang asing yang menawarkan diri untuk membangun kawasan itu bersama-sama. Perusahaan pun berambisi membangun menara tertinggi.

Namun, Paramount Land belum mau berbicara lebih lanjut karena belum meneken nota kesepahaman

Dia menjelaskan secara ekonomi makro, potensi Indonesia masih tinggi untuk investasi asing. Pasalnya, tak ada tempat lain bagi investor asing berekspansi, seperti Eropa, AS, China, ataupun Dubai.

“Jadi kalau di sini mau dibilang sejelek-jeleknya, Indonesia mau dibilang infrastrukturnya enggak bagus, ngomong apa aja, tetap Indonesia lebih baik dari India, Filipina, dan lainnya. Apalagi, untuk properti,” ujar Andreas kepada Bisnis, Kamis (12/4/2018).

Paramount Land pun menepis anggapan bahwa pengembangan dan harga jual perumahan di Serpong telah mengalami titik jenuh.

Dia menjelaskan dalam properti memang akan ada masanya suatu wilayah mengalami siklus puncak di mana harga sudah terlalu tinggi dan tidak mungkin turun lagi. Namun, saat ini kawasan Serpong masih cenderung fluktuatif, dibandingkan pada 2013 yang memang sempat meningkat drastis.

Andreas membandingkan kawasan Serpong dengan Jakarta Utara, seperti Kelapa Gading yang sudah padat sehingga harga yang sudah terkatrol naik tak mungkin mengalami penurunan. Penurunan di kawasan itu hanya akan terjadi jika ada krisis ekonomi.

Sementara itu, pengembangan di Serpong belum merata sehingga perusahaan properti masih bisa mencari harga lahan di bawah Rp10 juta meter persegi.

“Kalau di Serpong ini karena belum seragam, variasinya tinggi. Kompetitor di sekitar kami juga tidak akan bisa menaikkan harga dengan begitu tinggi. Selama kami belum menaikkan harga, mereka pasti mengerem harga. Memang suatu hari Serpong akan mentok, tapi kalau sampai hari ini belum," paparnya,.

Selain itu, Serpong disebut memiliki kelebihan sebagai kawasan industri ringan dan industri rumahan sehingga minim pencemaran limbah dan suara. Berbeda halnya dengan kawasan timur Jakarta yang karakteristik industrinya lebih polutif.

“Selain itu, yang unggul adalah kawasan dekat airport. Lalu lintas semacet-macetnya lebih mendingan daripada arah Jakarta ke timur,” imbuh Andreas.

Tag : properti
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top