Inilah 5 Startup Indonesia yang Dinilai Berpengaruh oleh Forbes

Dalam daftar 30 Under 30 Asia yang dirilis pada Selasa (27/3/2018), Forbes memasukkan para pendiri lima startup asal Tanah Air sebagai anak-anak muda berpengaruh Asia. Mereka dinilai mampu melakukan perubahan positif terhadap industri masing-masing dan mendorong kemajuan di bidangnya.
Annisa Margrit | 28 Maret 2018 12:56 WIB
Marshall Utoyo (kedua kanan), salah satu pendiri Fabelio, masuk dalam daftar 30 Under 30 Asia versi Forbes. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebagai negara dengan jumlah penduduk berusia muda yang besar, tidak mengherankan jika perkembangan dunia digital di Indonesia tidak kalah dari negara-negara maju.

Perusahaan rintisan alias startup terus bermunculan. Tidak hanya yang bergerak di e-commerce tapi juga yang berkontribusi di pembukaan akses pendanaan alternatif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Dalam daftar 30 Under 30 Asia yang dirilis pada Selasa (27/3/2018), Forbes memasukkan para pendiri lima startup asal Tanah Air sebagai anak-anak muda berpengaruh Asia. Mereka dinilai mampu melakukan perubahan positif terhadap industri masing-masing dan mendorong kemajuan di bidangnya.

Siapa saja mereka? Berikut daftarnya seperti dikutip dari Forbes:
1. Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya, pendiri Modalku
Modalku adalah platform peer-to-peer (P2P) lending yang menghubungkan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang membutuhkan bantuan dana dengan para calon investor. Berdiri pada 2015, total pembiayaan yang disalurkan melalui Modalku baru-baru ini menembus US$75 juta.

 

Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya.

 

"Industri teknologi finansial maupun P2P lending masih tergolong sebagai industri baru di Indonesia. Namun, saya dan seluruh tim Modalku memiliki visi membangun inklusi keuangan untuk perekonomian Indonesia yang lebih maju dan mendukung perkembangan UMKM. Kami juga ingin memberikan sebuah wadah alternatif investasi yang baru dalam lingkup dunia keuangan dan digital yang sedang berkembang pesat belakangan ini," papar pendiri dan CEO Modalku Reynold Wijaya dalam pernyataan resmi yang diterima Bisnis, Rabu (28/3/2018).

Pada Agustus 2016, Modalku mendapatkan pendanaan seri A terbesar bagi platform P2P lending di kawasan Asia Tenggara dari perusahaan modal ventura global. Pendanaan ini dipimpin oleh Sequoia India dan Alpha JWC.

Pada Maret 2018, Modalku menjadi startup pertama Indonesia yang tersertifikasi ISO 27001, sebuah sistem manajemen keamanan informasi internasional. Selain beroperasi di Indonesia, perusahaan ini juga beroperasi di Malaysia dan Singapura melalui nama Funding Societies.

2. Stanislaus Mahesworo Christandito Tandelilin, salah satu pendiri Sale Stock
Stanislaus adalah satu dari lima pendiri Salestock.com. Dikutip dari Forbes, Salestock.com adalah e-commerce fesyen yang berupaya menyediakan pakaian berkualitas dengan harga terjangkau termasuk masyarakat yang tinggal di kota kecil.

Agar harga tetap murah, perusahaan menggunakan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk menjaga pasokan. Salestock.com juga menawarkan cash-on-delivery (COD) di lebih dari 7.000 lokasi.

Tahun lalu, perusahaan ini mendapatkan pendanaan sebesar US$27 juta atau sekitar Rp371,2 miliar dalam bentuk saham seri B.

3. Krishnan Menon dan Marshall Utoyo, pendiri Fabelio
Fabelio didirikan pada 2015 dengan tujuan menyediakan furniture berkualitas dengan harga terjangkau. Sekarang, Fabelio juga memiliki beberapa gerai offline untuk memasarkan produk-produknya.

Fabelio bekerja sama dengan lebih dari 2.000 pengusaha furniture lokal. Sebagai strategi menarik konsumen, Fabelio menyediakan sejumlah layanan khusus seperti desain interior gratis dan pengembalian barang jika tak sesuai dengan kebutuhan konsumen.

4. Fransiska Hadiwidjana, pendiri Prelo
Prelo adalah marketplace yang fokus dalam penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan komunitas. Platform ini juga memungkinkan para penggunanya untuk melakukan transaksi jual beli barang bekas atau menyewakan barang-barang yang mereka miliki.

 

Fransiska Hadiwidjana.

 

Barang-barang yang ditransaksikan dalam Prelo tidak hanya berupa pakaian, tapi juga produk kosmetik, gawai, barang antik, furniture, hingga mainan anak dan buku.

Sekarang, Prelo juga menyediakan fasilitas jasa titip alias jastip. Para pengguna Prelo yang sedang berada di destinasi tertentu, termasuk di luar negeri, bisa membuat daftar barang yang bisa dititipkan kepadanya. Sebaliknya, pengguna Prelo lainnya bisa meminta dibelikan produk-produk tersebut dengan harga tertentu.

Selain mengurus Prelo, Fransiska yang masih berusia 28 tahun ini juga masuk dalam daftar 10 entrepreneur teknologi perempuan di Asia Tenggara versi Forbes dan turut membidani lahirnya AugMI. Ini adalah sebuah startup biomedis yang berbasis di Silicon Valley, California, AS.

5. Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho, pendiri Crowde
Pada 2016, Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho mendirikan Crowde yaitu sebuah platform penggalangan dana investasi bagi para petani di daerah.

 

Yohanes Sugihtononugroho.

 

Dengan platform ini, para petani mendapatkan akses pendanaan alternatif di luar perbankan dan rentenir. Masyarakat bisa ikut berpartisipasi dengan menginvestasikan dana mulai dari US$1 dan turut memantau perkembangan hasil pertanian terkait secara online.

Begitu panen, para investor akan mendapatkan sebagian dari hasil keuntungan para petani. Forbes melaporkan Crowde turut mendapat penghargaan untuk sektor pertanian pada DBS-NUS Social Venture Challenge Asia pada 2017.

 

Tag : forbes, StartUp
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top