BPP PLN Naik Rp42/kWh Pada 2017

Rata-rata biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkitan PT PLN (Persero) tahun 2017 untuk tingkat nasional mengalami peningkatan sebesar Rp42/kWh dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp983/kWh, setara dengan US$7,39 sen/kWH.
Denis Riantiza Meilanova | 23 Maret 2018 06:20 WIB
PLTU Tanjung Jati B - pln.co.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Rata-rata Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Pembangkitan PT PLN (Persero) pada 2017 untuk tingkat nasional mengalami peningkatan sebesar Rp42/kWh dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp983/kWh, setara dengan US$7,39 sen/kWH.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan standar rata-rata BPP nasional pada 2017 naik menjadi Rp1.025/kWh atau US$7,66 sen/kWh. 

Peningkatan disebabkan oleh naiknya harga rata-rata energi primer pembangkit PLN, yakni harga gas, batu bara, dan BBM.  Di sisi lain, pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS.

"Dulu saya harap turun tapi naik karena cost-nya sedikit naik. Kita enggak bisa ngapa-ngapain," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Dari data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, harga gas rata-rata pada 2017 meningkat menjadi US$8 per MMBtu dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar US$7,6 per MMBtu.  Harga batu bara rata-rata juga mengalami kenaikan signifikan dari Rp618 per kilogram (kg) menjadi Rp859 per kg.  

Sementara itu, harga BBM rata-rata meningkat menjadi Rp6.691/kWh dari sebelumnya sebesar Rp5.171/kWh. Adapun kurs rupiah melemah menjadi Rp13.383 dari sebelumnya Rp13.307.

Jonan berujar BPP Pembangkitan Tahun 2017 tersebut digunakan sebagai acuan penentuan tarif jual listrik dari produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) ke PLN.  

"Ini kami enggak ubah parameter sama sekali.  Kalau naik ya naik, kalau turun ya turun saja," tambahnya.

Tag : pln
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top