Digitalisasi Membuat Indonesia Semakin Rawan Serangan Siber

Saat ini masih banyak metode peretasan seperti e-mail phishing yang mengatasnamakan bank.
Dhiany Nadya Utami | 22 Maret 2018 09:24 WIB
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA — Menghadapi transformasi digital di semua lini, berbagai sektor dinilai perlu memperkuat sistem keamanan sibernya. Transformasi digital yang makin pesat dikhawatirkan akan meningkatkan serangan siber ke Indonesia.

Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan tren serangan siber tahun ini diprediksi akan meningkat dan meluas ke berbagai bidang.

“Kalau kemarin kan masih rumah sakit. Wannacry itu bukan awal, bakal banyak turunannya yang bahkan lebih ganas. Saya lihat perbankan kita juga lemah,” ungkapnya pada Rabu (21/3/2018).

Bukan tanpa alasan Heru menyatakan hal tersebut, berdasarkan pengamatannya saat ini masih banyak metode peretasan seperti e-mail phishing yang mengatasnamakan bank.

Selain itu Heru menilai maraknya penggunaan dompet digital juga berpotensi menjadi sasaran baru. Menurutnya, sistem dompet digital perlu diwaspadai karena resikonya kerap tak disadari.

“Ada keluhan orang top-up tidak masuk, saldonya hilang, uang digitalnya tidak bisa dipakai. Itu kalau sistemnya tidak siap kan bisa bahaya,” tuturnya.

Hal ini, menurut Heru, dapat memiliki efek yang berkesinambungan. Apalagi saat ini beberapa aplikasi yang menyediakan fitur dompet digital meminta data pribadi termasuk nomor ponsel dan nomor induk kependudukan (NIK).

“Sekarang semua sudah jadi satu kan? Nomor ponsel dan KTP dikumpulkan datanya, bisa ada kemungkinan akses via dompet digital tadi,” ujar Heru.

Dia melihat saat ini sebetulnya pemerintah telah menyadari risiko serangan, tetapi belum banyak yang melakukan langkah nyata. Salah satu ganjalan adalah anggaran atas biaya yang harus disediakan.

“Keamanan siber dan keamanan data ini kan antik. Ibaratnya bangun rumah, kita tidak hitung perawatannya tapi begitu disertakan biaya perawatan jadi dobel kan?,” kata Heru.

Maka dari itu Heru menghimbau agar semua sektor, termasuk pemerintah, jangan ragu mengencangkan proteksi terhadap keamanan data agar tak terkena serangan siber.

“Semua sektor lah harus berhati-hati. Apalagi pemerintah yang megang data publik. Pajak, Dukcapil, semuanya. Sektor finansial juga,” tutupnya.

Tag : serangan siber
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top