Enam Startup Blockchain Bentuk Asosiasi

Enam perusahaan yang tergabung di dalam asosiasi itu diantaranya Indodax, Luno, Pundi X, Blocktech Indonesia, Blockchain Zoo, dan Indonesian Blockchain Network.
N. Nuriman Jayabuana | 21 Maret 2018 21:11 WIB
Pengurus Aosisasi Blockchain Indonesia bersama pengurus Kadin Indonesia - N. Nuriman Jayabuana

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan penyedia teknologi blockchain membentuk Asosiasi Blockchain Indonesia yang bernaung di bawah Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

Asosiasi penyedia teknologi blockchain dibentuk sebagai wadah untuk memberikan berbagai masukan kepada pemerintah dalam penyusunan berbagai regulasi.

Enam perusahaan yang tergabung di dalam asosiasi itu diantaranya Indodax, Luno, Pundi X, Blocktech Indonesia, Blockchain Zoo, dan Indonesian Blockchain Network. Berbagai perusahaan itu bergerak pada bisnis birsa pertukaran aset digital, jasa konsultansi blockchain, dan penyediaan sistem pembayaran.

Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonesia Oscar Darmawan menyatakan salah satu tantangan perkembangan teknologi blockchain di dalam negeri merupakan keterbatasan regulasi terkait.

“Perkembangan teknologi blockchain, kuncinya ada di regulasi.Penggunaan teknologi blockchain sangat luas, bukan hanya tertuju pada teknologi finansial. Lebih dari itu, blockchain dapat merevolusi berbagai industri,” ujarnya di Jakarta, Rabu (21/3).

Menurutnya, masyarakat awam kerap memiliki keterbatasan pemahaman tatkala membedakan definisi aset digital cryptocurrency dengan teknologi blockchain itu sendiri.

Berbeda dengan aset digital cryptocurrency, blockchain merupakan teknologi yang dipergunakan secara luas. Lini usaha yang dapat mengadopsi teknologi blockchain merupakan bisnis yang berkaitan erat dengan pengelolaan data, seperti misalnya penyedia layanan keuangan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani meyakini berbagai tataran bisnis mengalami perubahan signifikan dengan adanya teknologi blockchain.

Menurutnya, penggunaan blockchain semakin memangkas berbagai biaya dengan adanya sistem pengelolaan data yang terdesentralisasi.

Rosan menyatakan belakangan semakin banyak perusahaan multinasional seperti Alibaba, IBM, Microsoft, dan AirAsia yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk meningkatkan keamanan data.

Di Indonesia, begitu besarnya peluang tergambar dari banyaknya arus investasi yang mengalir pada perusahaan rintisan penyedia teknologi blockchain. Dalam dua tahun terakhir, ujarnya, perusahaan penyedia blockchain di Indonesia sudah mampu menghimpun dana  sekitar Rp1 triliun rupiah yang berasal dari basis investor dan penggunanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bitcoin

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top