Kembangkan Manufaktur Lokal, Indonesia Bersiap Luncurkan Making Indonesia 4.0

Pemerintah berencana meluncurkan program Making Indonesia 4.0 pada bulan depan. Program ini merupakan peta jalan terintegrasi dan kampanye untuk mengimplementasikan strategi industry 4.0 yang dirancang oleh Kementerian Perindustrian.
Annisa Sulistyo Rini | 20 Maret 2018 16:19 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah berencana meluncurkan program Making Indonesia 4.0 pada bulan depan. Program ini merupakan peta jalan terintegrasi dan kampanye untuk mengimplementasikan strategi industry 4.0 yang dirancang oleh Kementerian Perindustrian. 

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, mengatakan peta jalan ini akan memberikan arah yang jelas mengenai strategi industry 4.0 bagi Indonesia, termasuk di dalamnya lima sektor yang menjadi fokus untuk memperkuat fundamental struktur industri dalam negeri. Kelima sektor tersebut adalah makanan dan minuman, otomotif, elektronik, kimia, dan tekstil.

"Kalau Thailand mempromosikan Manufacturing Thailand, maka Indonesia mempromosikan Making Indonesia 4.0. Ini akan jadi program bapak presiden, launching nanti 4 April 2018," ujarnya seusai pertemuan dengan para pelaku usaha dari lima sektor industri yang menjadi penggerak penerapan Industry 4.0 di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Sektor-sektor tersebut dipilih menjadi prioritas karena dinilai paling siap untuk mengimplementasikan industry 4.0. Kendati demikian, bukan berarti bahwa sektor di luar prioritas tersebut tidak boleh atau tidak dapat menggunakan industri 4.0.

Secara garis besar, terdapat lima teknologi utama yang menjadi pembangunan sistem industy 4.0, yaitu Internet of things, artificial intellegence, human machine interface, teknologi robotik dan sensor, dan teknologi pencetakan tiga dimensi.

Airlangga menuturkan dengan mengimplementasikan industry 4.0, beberapa aspirasi besar dapat tercapai, yaitu membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi pada 2030, mengembalikan angka net export industri sebesar 10%, peningkatan tenaga kerja dua kali lipat dibandingkan dengan kenaikan biaya tenaga kerja, serta pengalokasian 2% dari PDB untuk kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi dan inovasi.

"Untuk melangkah ke sana, sektor industri dalam negeri perlu banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era industry 4.0," katanya.

Sementara itu, Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, dalam penerapan industry 4.0 akan terjadi peralihan tenaga kerja ke bagian desain, penelitian dan pengembangan, logistik, ekonomi daur ulang, dan lainnya. 

"Ini menjadi tugas bersama untuk menyiapkan hal tersebut. Kemenperin mulai melangkah ke sana dengan link and match dan membangun pusat inovasi untuk menjaring talenta anak muda," katanya.

Tag : industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top