Perdagangan Produk Pertanian Indonesia Dibayangi Proteksionisme Negara Maju

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan perdagangan produk pertanian nasional 2018 dibayangi kebijakan proteksionisme oleh negara-negara maju.
Newswire | 16 Maret 2018 03:23 WIB
Bungaran Saragih (kedua kiri) - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -  Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan perdagangan produk pertanian nasional 2018 dibayangi kebijakan proteksionisme oleh negara-negara maju.

Dalam seminar "Agrina Agribusiness Outlook 2018: Tantangan dan Peluang Agribisnis 2018" di Jakarta, Kamis (15/3/2018) dia mengatakan, Amerika Serikat dibawah Presiden Donald Trump mulai menerapkan kebijakan proteksionis terhadap ekspor dari negara lain, termasuk produk pertanian dari Indonesia.

Kebijakan AS ini, lanjutnya, ternyata diikuti oleh negara-negara lain seperti Tiongkok, India, Eropa untuk memproteksi pasarnya.

"Oleh karena itu pemerintah perlu berhati-hati terhadap gerakan proteksionisme ini. Jangan sampai ini menjadi perang dagang dan permintaan dunia (terhadap produk pertanian) menurun," katanya.

Bungaran menyatakan, negara-negara maju seperti AS, Eropa selama ini selalu mendengungkan pasar bebas, namun kini justru melakukan kebijakan proteksionisme terhadap pasar mereka.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor itu mencontohkan, upaya melindungi pasar dalam negeri tersebut dilakukan dengan menerapkan kebijakan hambatan non tarif yang mana AS memiliki lebih dari 6000 jenis hambatan non tarif sedangkan Eropa lebih dari 4000 jenis.

Untuk itu, menurut dia, Indonesia yang dikaruniai penduduk besar harus mampu memanfaatkan pasar dalam negeri semaksimal mungkin untuk menghadapi kebijakan proteksionisme dari negara-negara maju tersebut.

Bungaran menyatakan, program pemerintah untuk mengembangkan tol laut merupakan salah satu hal yang pas untuk menghadapi proteksi pasar global.

"Tol laut harus cepat-cepat bisa digunakan untuk menghadapi proteksionisme oleh negara-negara maju," katanya.

Pada kesempatan itu Bungaran menyatakan, meskipun menghadapi hambatan proteksionisme tetapi prospek pertanian Indonesia pada 2018 bagus.

Menteri Pertanian pada era Presiden Megawati Soekarnoputri itu mengatakan , akan terjadi peningkatan permintaan terhadap komoditas pangan secara nasional pada tahun 2018 dan 2019.

Dalam tahun 2018 akan berlangsung Pilkada serentak di 171 daerah sedangkan 2019 Pemilu DPR, DPRD dan DPD serta pemilihan presiden dan wakil presiden.

"Tentu saja selama perhelatan politik tersebut konsumsi meningkat sehingga permintaan terhadap sayur, beras dan komoditas pangan lain akan meningkat," katanya.

Sementara itu pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan, kebijakan proteksinisme yang dilakukan sejumlah negara tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk mencari pasar baru produk pertanian nasional.

Beberapa negara yang potensial dijadikan pasar baru bagi produk pertanian Indonesia, lanjutnya, seperti Afrika Selatan, kawasan Afrika Utara maupun Eropa Timur.

Sumber : ANTARA

Tag : pertanian
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top