Maskapai Ikut Tertekan Pelemahan Rupiah

Asumsi kurs yang digunakan untuk proyeksi penghitungan biaya operasional tahun ini sebesar Rp13.500 per dolar AS. Kalau saat ini sudah di atas itu, tentu akan berdampak besar terhadap biaya perawatan pesawat. Apalagi dengan kondisi low season seperti saat ini.
Rio Sandy Pradana | 14 Maret 2018 15:51 WIB
Maskapai penerbangan - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak akhir Januari 2018 hingga saat ini dirasa sangat membebani biaya perawatan pesawat maskapai penerbangan.

Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA), Bayu Sutanto mengatakan asumsi kurs yang digunakan untuk proyeksi penghitungan biaya operasional tahun ini sebesar Rp13.500 per dolar AS.

"Kalau saat ini sudah di atas itu, tentu akan berdampak besar terhadap biaya perawatan pesawat. Apalagi dengan kondisi low season seperti saat ini," kata Bayu, Rabu (14/3/2018).

Dia menambahkan pelemahan rupiah akan menggerus laba operasi maskapai karena di sisi lain pendapatan cenderung menurun karena sedang low season. Adapun, biaya perawatan pesawat memiliki porsi 20% hingga 25% terhadap total biaya operasional maskapai.

Kurs tengah Bank Indonesia sempat mencapai level Rp13.303 per dollar AS pada 26 Januari 2018. Namun, angka tersebut terus mengalami pelemahan hingga Rp13.733 per dolar AS per hari ini.

Kurs tersebut sebenarnya sudah menguat hingga 19 poin atau 0,14% dari Rp13.752 pada Rabu (13/3/2018). Akan tetapi, nilai tersebut masih jauh di atas proyeksi kurs yang digunakan perusahaan maskapai.

Tidak hanya terhadap biaya perawatan pesawat, kondisi ini akan menyebabkan biaya bahan bakar meningkat karena maskapai membayar sebagian besar belanja dengan menggunakan mata uang dolar AS. "Rata-rata maskapai sedang dalam kondisi merah, alias rugi semua," ujarnya

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, maskapai penerbangan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top