Pemerintah Tak Perlu Bangun Rusunawa Mahasiswa

Konsultan properti menilai pemerintah harus fokus dan tepat sasaran membangun perumahan untuk rakyat ketimbang rumah susun sewa untuk mahasiswa.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 13 Maret 2018 20:39 WIB
Bisnis.com, JAKARTA -- Konsultan properti menilai pemerintah harus fokus dan tepat sasaran membangun perumahan untuk rakyat ketimbang rumah susun sewa untuk mahasiswa.
Kepala Departemen Riset Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan mahasiswa adalah golongan yang masih bisa mendapatkan bantuan dana dari orangtua. Anton menyarankan, untuk mengejar program satu juta rumah, pemerintah lebih baik menggencarkan hunian untuk keluarga.
"Banyak yang pemerintah perlu urus. Keluarga yang belum punya hunian dibandingkan membangun apartemen untuk mahasiswa," jelas Anton kepada Bisnis, Selasa (13/3/2018).
Dia menilai pembangunan apartemen mahasiswa sebaiknya menjadi fokus badan usaha milik negara (BUMN) ataupun pengembang swasta. Sebagai contoh, pembangunan rusunawa di kawasan kampus sangat penting bagi karyawan universitas ketimbang mahasiswa. Dia beralasan, rata-rata pegawai kampus dan keluarganya cenderung sulit mendapatkan rumah yang terjangkau dari pengembang umum.
Sebagai contoh, Rektor Universitas Cenderawasuih Apolo Safanpo mengatakan hingga saat ini masih banyak tenaga pengajar khususnya para dosen di Uncen yang belum memiliki rumah sendiri bahkan ada beberapa yang mengontrak rumah serta memilih kos-kosan sebagai tempat tinggalnya. Dia berharap Kementerian PUPR bisa membantu untuk membangun rumah khusus bagi para dosen pengajar.
Ada pun 50%, dari jumlah pegawai dan tenaga pengajar di Universitas Cendrawasih total 680 orang belum memiliki rumah sendiri. Kebanyakan dari mereka mengontrak rumah atau menyewa kos untuk tempat tinggal. Hal itu tentunya membutuhkan pengeluaran yang cukup besar. Dia pun mengajukan permohonan pembangunan sebanyak 50 unit rumah khusus ke Kementerian PUPR.
Untuk mendukung terwujudnya rumah khusus bagi para dosen tersebut, pihak rektorat menyiapkan lahan seluas satu hektar untuk lokasi pembangunan rumah khusus tersebut. Lahan yang tersedia itupun sudah siap bangun dan memiliki site plan yang jelas terkait fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Anton menyarankan, pembangunan rusunawa untuk mahasiswa juga bukan hanya menyediakan fasilitas untuk mahasiswa. Sebaliknya, juga harus memperhitungkan efisiensi biaya bagi mahasiswa.
"Apartemen mahasiswa harus bangun dengan jarak yang sangat dekat dengan kampusnya. Biar bisa menurunkan biaya transportasinya," kata Anton.
Bisnis mencatat, Kementerian PUPR telah menggelontorkan biaya pembangunan Rp47 miliar untuk rusunawa bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada di Sendowo. Ada pun rusunawa itu memiliki satu tower setinggi tujuh lantai dengan dua lift dan memiliki 180 unit mampu menampung 360 orang. 
Rusunawa ini dibangun oleh PT Sarijati Adhitama dan di bawah pengawasan konsultan manajemen konstruksi PT Ciriajasa Cipta Mandiri. 
Selain di Sendowo, Kementerian PUPR juga membangun rusunawa mahasiswa Universitas Gajah Mada bernama rusunawa UGM Bayat. Rusunawa ini telah digunakan oleh mahasiswa UGM dan mahasiswa kampus lainnya, bahkan sejumlah mahasiswa luar negeri yang melakukan studi lapangan geologi bisa tinggal di rusunawa ini.
Tag : apartemen
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top