Musim Hujan pada Februari Bikin Penggunaan Semen Lesu

Konsumsi semen nasional pada Februari 2018 turun 15,7% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Musim hujan dan hari kerja yang pendek menjadi faktor pendorong penurunan tersebut.
Annisa Sulistyo Rini | 13 Maret 2018 18:33 WIB
Pekerja memindahkan semen ke atas kapal di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/11). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA—Konsumsi semen nasional pada Februari 2018 turun 15,7% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Musim hujan dan hari kerja yang pendek menjadi faktor pendorong penurunan tersebut.

Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), mengatakan pada Januari konsumsi semen nasional tercatat sebesar 5,68 juta ton dan turun menjadi 4,79 juta ton pada Februari 2018. Kendati secara bulanan turun, apabila dibandingkan dengan konsumsi pada Februari 2017, terdapat peningkatan sekitar 5,2%.

"Penurunan secara bulanan dikarenakan hujan dan libur Imlek serta hari kerja yang hanya 28 hari. Namun, dibandingkan demand tahun lalu, semua daerah cukup bagus, terutama Sumatra dan Kalimantan," ujarnya Selasa (13/3/2018).

Untuk wilayah Sumatra, Widodo menuturkan permintaan semen meningkat cukup signifikan terutama di Sumatra Selatan, Lampung, Aceh, Kepulauan Riau, Jambi dan Bangka Belitung dengan kenaikan rata-rata di atas 20% secara tahunan. Namun, peningkatan permintaan semen tidak terjadi di Sumatra Barat dan Bengkulu yang mencatatkan penurunan.

Untuk permintaan di Kalimantan, Widodo menilai peningkatan terlihat menggembirakan karena tumbuh sebesar 16,4% setelah pada tahun lalu terpuruk karena harga batu bara yang jatuh. "Saat ini sudah mulai proyek jalan tol Samarinda-Balikpapan dan proyek strategis power plant dan pelabuhan. Di Kalsel dan Kaltara, permintaan naik di atas 50%," jelasnya.

Permintaan di wilayah Jawa ditopang oleh Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten dengan kenaikan rata-rata sebesar 10%, sedangkan konsumsi semen di Jawa Timur dan Jawa Barat tercatat stagnan. Untuk wilayah Sulawesi, Widodo menyebutkan ada sedikit kenaikan sebesar 3,2% setelah tahun lalu mengalami penurunan.

"Daerah Bali dan Nusa Tenggara menurun dratis hampir 7%, sedangkan Maluku dan Papua cukup mengembirakan dengan kenaikan 9,3%," katanya.

Sementara itu, ekspor clinker dan semen tercatat sebesar 167.000 ton atau naik 94%. Secara kumulatif, total konsumsi semen pada Januari--Februari 2018 sebesar 10,48 juta ton atau naik 7,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Kendati kenaikan cukup lumayan, tetapi kondisi total stok semen dan clinker cukup besar saat ini, sekitar 4 juta ton. Produsen semen tetap mengharapkan pembangunan infrastruktur, proyek sejuta rumah, serta dana pedesaan segera bisa dimulai pada April," ujarnya.

Asosiasi memproyeksikan permintaan semen pada Maret belum meningkat tajam karena musim hujan masih berlangsung dan proyek infrastruktur banyak yang belum mulai. Permintaan baru akan bergerak naik mulai April atau Mei tahun ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top