Kinerja Produsen Kertas Terdongkrak Permintaan Impor

Industri pulp dan kertas di Indonesia mencatatkan kinerja positif akibat meningkatnya permintaan ekspor.
Anggara Pernando | 19 Februari 2018 17:57 WIB
Pabrik kertas. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Industri pulp dan kertas di Indonesia mencatatkan kinerja positif akibat meningkatnya permintaan ekspor. 

Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam mengatakan tingginya permintaan bubur kertas maupun kertas di dunia telah meningkatkan harga jual dalam 2 tahun terakhir. Akibatnya harga pulp dan kertas di dalam negeri juga mengalami kenaikan akibat penyesuaian harga. 

"Harga di dalam negeri tidak bisa dihihindari ikut meningkat akibat meningkatnya harga bahan baku," kata Aryan, Senin (19/2/2018). 

Pada saat yang sama, anggaran proyek pemerintah masih berpatokan pada harga sebelumnya yang relatif rendah. Kenaikan harga kertas di industri juga disebabkan karena sebagian produsen melakukan diferensiasi produk.

"Beberapa produsen kertas tulis cetak beralih memproduksi kertas industri karena tren konsumsi kertas tulis cetak menurun akibat digitalisasi. Untuk itu harus dicari solusinya bersama agar win-win [antara industri grafika maupun bagi anggota APKI]," katanya. 

Meski ada anggotanya yang beralih model bisnis, Aryan mengatakan saat ini ketersediaan kertas di pasar sangat memenuhi kebutuhan. Namun, dia mengakui perbedaan harga yang diharapkan perusahaan grafika maupun estimasi harga jual membutuhkan solusi agar kedua industri sama-sama dapat tumbuh sehat.  

"Rencananya ada rapat di Gatsu [Kementerian Perindustrian di kawasan Gatot Subroto] Rabu [21/2/2018] ini. Mudah-mudahan bisa dipertemukan antara penjual dan pembeli," katanya. 

Dalam kesempatan terpisah, Aryan mengatakan produsen pulp dan kertas memperkirakan dapat tumbuh 5%—5,5% pada tahun ini. Capaian ini tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan tahun lalu sekitar 5%.

Aryan memperkirakan pabrikan pulp dan kertas di dalam negeri masih harus menghadapi tantangan yang sama setiap tahun, yaitu kebijakan proteksionisme dan tuduhan dumping berbagai negara.

Di samping itu, berbagai negara lain juga mulai memasang bea masuk terhadap kertas asal Indonesia dengan tarif yang beragam, yakni berkisar 20%—70%. Akibatnya, produsen pulp dan kertas mesti mulai mencari pasar ekspor alternatif.

“Ekspor ke AS dan Australia sudah mulai turun drastis sekali sejak mulai dituduh dumping. Pasar yang masih bisa ditingkatkan masih di sekitar Asia Timur, Timur Tengah, dan Afrika,” ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri pulp and paper

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top