Tantangan Utama Transformasi Digital di Indonesia

Kontribusi produk dan pelayanan digital ke produk domestik bruto Indonesia pada 2017 baru 4%.
Duwi Setiya Ariyanti | 14 Februari 2018 16:32 WIB
(Dari Kiri ke Kanan) Andrea Della Mattea, President of Microsoft Asia Pacific; Achmad Royhan, Vice President Information Technology Citilink Indonesia; Mevira Munindra, Research Manager, IDC Indonesia; dan Haris Izmee, President Director of Microsoft Indonesia saat sesi pempararan Studi Asia Digital Transformation 2018 - Microsoft Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Kontribusi produk dan pelayanan digital ke produk domestik bruto Indonesia pada 2017 baru 4%. Porsi digital di ekonomi Indonesia masih rendah karena proses digitalisasi di Indonesia masih terkendala dua tantangan utama.

Head of Consultant International Data Corporation (IDC) Indonesia Mevira Munindra mengatakan terdapat dua tantangan utama untuk melakukan digitalisasi di Indonesia. 

Pertama, dia menyebut, tantangan untuk melakukan digitalisasi yakni berasal dari minimnya infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud, tutur Mevira, berupa infrastruktur yang terkait dengan konektivitas. Di sisi lain, pemerintah juga masih berupaya untuk memperluas sebaran infrastruktur.

Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika per Januari 2018, BTS yang terpasang terdapat 133.000 unit untuk menyediakan jaringan 2G, 171.000 Node B untuk jaringan 3G, dan 55.000 eNode B untuk jaringan 4G. Untuk Palapa Ring, cakupannya sebesar 95,09% di wilayah Indonesia barat, 7,96% di wilayah tengah dan timur dengan 32,76%.  

Infrastruktur tersebut, katanya, penting agar Indonesia bisa menikmati dampak transformasi digital secara optimal. Dari sisi digitalisasi, mengacu pada riset terbaru yang dilakukan Microsoft dan IDC, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2021 40% porsinya berasal dari produk dan pelayanan digital. Angka ini diperkirakan naik dari kondisi 2017 dengan kontribusi produk dan pelayanan digital sebesar 4%. 

“Infrastruktur pasti. Connectivity ya (tantangannya),” ujarnya usai menghadiri jumpa pers di Hotel Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Kedua, belum adanya badan khusus dari pemerintah yang memonitor transformasi digital. Dia menilai dengan badan khusus seperti ini laju digitalisasi di Tanah Air bisa diakselerasi. 

Adapun, dalam riset yang melibatkan 1.560 pemangku kepentingan di 15 negara se-Asia Pasifik menghasilkan bahwa digitalisasi akan menyumbang tambahan US$60 miliar pada PDB negara di kawasan Asia Tenggara dan US$22 miliar terhadap PDB Indonesia.   

“Kemudian, harapan pemerintah ada independent organization yang mendorong digital transformation di Indonesia. It will help acceleration kalau ada satu unit yang ke arah sana yang membantu ya emphasize,” katanya. 

Tag : transformasi digital
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top