Kemenperin Bakal Saluran Rp140,75 miliar untuk Pengembangan Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian menyiapkan anggaran senilai Rp140,75 miliar pada tahun ini untuk menunjang pengembangan tiga kawasan industri di luar Jawa.
Annisa Sulistyo Rini | 12 Februari 2018 20:19 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian menyiapkan anggaran senilai Rp140,75 miliar pada tahun ini untuk menunjang pengembangan tiga kawasan industri di luar Jawa.

Ketiga kawasan industri tersebut yaitu kawasan industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, dan kawasan industri Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan yang akan dilakukan, di antaranya untuk perluasan lahan dan peningkatan keperluan operasional kawasan industri, termasuk pembangunan infrastruktur, penyiapan ketersediaan SDM, hingga peningkatan investasi. 

“Upaya tersebut dilakukan guna memperbaiki iklim investasi dan penciptaan lapangan pekerjaan baru,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (12/2/2018).

Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, ditargetkan mampu menarik investasi senilai Rp129 triliun di atas lahan seluas 1.933 hektare dan diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 83.300 orang hingga 2031. Pengembangan kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ini difokuskan untuk hilirisasi kelapa sawit, karet, dan aneka industri.

Dari luas area kawasan tersebut, pembagiannya untuk zona industri sebesar 70%, zona logistik 15%, dan sisanya untuk sektor pariwisata. Di kawasan ini terdapat satu perusahaan yang telah beroperasi, yaitu PT Unilever Oleochemical Indonesia dengan nilai investasi Rp3,35 triliun.

Selain itu, ada tiga perusahaan lain yang akan mengisi kawasan tersebut. Pertama PT Industri Nabati Lestari dengan investasi Rp1 triliun dan ditargetkan beroperasi April 2018. Kedua, PT Alternative Protein Indonesia yang akan membangun insect bio reactor atau pengolahan ekstrasi protein serangga (IBR) untuk makanan ternak, dengan investasi senilai Rp5,7 triliun.

Dan ketiga, PT Pertamina yang akan membangun pembangkit tenaga listrik biogas berkapasitas 1,6 megawatt dengan nilai investasi Rp53 miliar. Kemenperin dan PTPN III ikut memfasilitasi pembangunan infrastruktur, seperti jalan poros, dryport, dan jalur kereta api sepanjang 3,9 kilometer.

Untuk kawasan industri Morowali, saat ini total realisasi investasi mencapai US$6 miliar dengan luas lahan 2.300 hektare yang sebagian besar diisi oleh pabrik smelter berbasis nikel dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 10.000 orang. 

Pembangunan kawasan industri Morowali menjadi salah satu upaya percepatan pengembangan proyek industri logam di Tanah Air, seperti industri berbasis nikel dan baja tahan karat atau stainless steel. Kawasan ini diharapkan dapat menghasilkan 4 juta ton baja stainless steel dan pabrik baja karbon berkapasitas 3,5 juta ton per tahun.

Kawasan industri tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Morowali rata-rata mencapai 29% selama tahun 2010-2016. Kemenperin telah memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Logam Morowali yang akan menjadi pusat inovasi teknologi dan pengembangan produk berbasis nikel.

“Sekolah tinggi vokasi ini merupakan salah satu best practice dalam pelaksanaan pendidikan yang mengusung konsep link and match dengan dunia industri,” tutur Menperin. 

Politeknik seluas 30 hektare ini dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan penelitian lengkap. Misalnya, ruang kelas, laboratorium, bengkel kerja, pusat inovasi, gedung direktorat, dan perpustakaan. 

 

Adapun, kawasan Industri Bantaeng memiliki luas 3.000 hektare dan diperkirakan menarik investasi sebesar US$5 miliar, dengan Harbour Group bertindak sebagai investor. Kemenperin telah selesai membangun Akademi Komunitas Industri Manufaktur untuk industri logam di kawasan ini.

Kampus tersebut dibangun di atas lahan seluas 2 hektare ini dan terdiri dari tiga jurusan, yakni teknik elektro, teknik mesin dan kimia analis. Fasilitasnya, antara lain gedung akademik, ruang kelas, ruang praktik, serta peralatan industri yang memadai dan mesin-mesin yang mendukung pembelajaran.

 

Tag : kawasan industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top