Kiblat Fintech Indonesia: Amerika atau China?

McKinsey memperkirakan tahun ini tekfin bakal menjadi magnet investasi baru
N. Nuriman Jayabuana | 01 Februari 2018 17:26 WIB
Founding Partner of Fintech Australia Simon Cant (dari kiri), Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Fintech Indoesia (Aftech) Ali Awan, dan Direktur Eksekutif Kebijakan Publik Ajisatria Suleiman memberi paparan dalam jumpa pers kolaborasi ekosistem fintech Indonesia dan Australia, di Jakarta, Rabu (31/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

JAKARTA — Perkembangan industri teknologi finansial (fintech) berada di persimpangan jalan. Akankah ekosistem tekfin Indonesia menyerupai ekosistem di China atau ekosistem di Amerika Serikat.

Partner McKinsey & Company Guillaume de Gantes mengatakan kebutuhan kanal pembayaran berbasis mobile akan menopang pertumbuhan industri tekfin dalam tiga tahun ke depan.

Dia memperkirakan tahun ini tekfin bakal menjadi magnet investasi baru. Laju pertumbuhan investasi ke tekfin di Indonesia diprediksi lebih pesat ketimbang investasi ke dagang-el.

“Prediksi saya, investasi pada tahun ini lebih banyak tertuju kepada fintech. Banyaknya investasi itu bisa mengalahkan e-commerce,” ujarnya dalam acara Indonesia—Australia Digital Forum yang digelar di Jakarta, Rabu (31/1).

Gelontoran modal yang masuk kemudian akan meningkatkan kapasitas teknologi perusahaan tekfin sekaligus memperluas adopsi cara pembayaran tersebut.

De Gantes memperkirakan ekosistem tekfin di Indonesia berpotensi tumbuh ke dua pola industri yang berbeda yaitu ekosistem tekfin China atau ekosistem tekfin Amerika Serikat.

Ekosistem tekfin di AS diwarnai oleh beberapa perusahaan yang mendominasi segmen pasar masing-masing, sedangkan ekosistem tekfin di China dikuasai oleh dua atau tiga perusahaan setelah proses konsolidasi besar-besaran.

Kedua opsi pengembangan ekosistem tekfin, ujar de Gantes, dapat memberikan implikasi yang berbeda. Benyaknya pemain pada pasar tekfin memungkinkan berbagai kolaborasi dengan sektor keuangan formal.

Di sisi lain, persaingan yang ketat antara beberapa perusahaan raksasa membuat mereka bertarung satu sama lain untuk memenangkan pasar dengan menawarkan berbagai inovasi dengan sumber daya yang kuat.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Donald Wihardja memiliki pendapat serupa.

“Indonesia di tengah persimpangan, apa ekosistem ekonomi digitalnya mau mengekor China atau AS?” katanya.

Menurutnya, saat ini, perusahaan teknologi seperti Grab dan Go-Jek berusaha membangun sebuah platform multi-fungsi agar pengguna bisa mendapatkan beragam pelayanan hanya dari satu aplikasi.

Kedua perusahaan tersebut berusaha menjadi seperti Alibaba dan Tencent yang saat ini mengusai beragam bidang industri digital di China.

“Kunci dari model seperti itu [model China], adalah platform payment. [Ini] yang menjadi benang merah penyambung seluruh layanan. Kita kelihatannya [akan] seperti itu,” kata Donald.

Sementara itu, Donald mengatakan berbagai teknologi perusahaan tekfin asal Australia dapat diadopsi perusahaan tekfin Indonesia untuk direplikasi.

“Mereka perlu diyakinkan untuk masuk lebih dalam ke pasar Asean dengan terlebih dulu masuk Indonesia. Indonesia dapat menjadi gateway sebagai pintu masuk pasar Asean,” ujarnya.

Associate Telstra Ventures Albert Biellinko menyatakan Indonesia merupakan salah satu pasar tekfin terbesar yang potensial di kawasan Asia Pasifik. Hanay saja, pelayanan tekfin kedua negara didasarkan pada kebutuhan dan perilaku konsumen yang berbeda.

Sebagai gambaran, ekosistem tekfin di Australia terintegrasi dengan layanan perbankan. Di sisi lain, pengembangan pasar tekfin di Indonesia masih belum terlihat secara jelas lantaran absennya regulasi.

“Tapi kami yakin teknologi dapat menjadi game changer yang menjawab persoalan di sektor jasa keuangan di sini. Pasar ekonomi digital di sini begitu besar, kami perlu mengeksplor berbagai peluang pengembangan tekfin yang belum terjangkau di pasar Indonesia,” ujarnya.

Tag : fintech
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top