Plug and Play: Startup Indonesia Kian Variatif

Semakin banyak startup yang menggeluti berbagai bidang, tidak hanya terfokus pada e-commerce.
N. Nuriman Jayabuana | 09 Januari 2018 20:34 WIB
Ruang kantor Plug and Play. - Media / Plug and Play Tech Center

JAKARTA — Perusahan teknologi rintisan yang bergabung dalam angkatan kedua program akselator GK-Plug and Play makin beragam. Perusahaan yang bergerak dalam bisnis dagang-el menjadi minoritas.

Presiden Direktur Plug and Play Indonesia Wesley Harjono menyatakan sebanyak 13 perusahaan rintisan teknologi berbagai bidang tergabung ke dalam angkatan kedua program akselerator itu.

“Tujuan program akselerator kita adalah agar semakin banyak startup yang menggeluti berbagai bidang, tidak hanya terfokus pada e-commerce.  Ekosistem startup di Indonesia semakin baik, terbukti tingkat kematangan startup yang mengikuti batch kedua PnP,” ujar Wesley di Jakarta, Selasa (9/1).

Belasan perusahaan rintisan itu bukan sebatas memperoleh seed funding atau pendanaan tahap awal, tapi juga memperoleh berbagai fasilitas untuk meningkatkan skala bisnisnya selama tiga bulan penuh.

Fasilitas yang disediakan adalah pembimbingan, workshop, ruang kerja berupa co-working space gratis, dan akses memperoleh pendanaan langsung dari korporasi rekanan serta Silicon Valley.

Sejumlah perusahaan yang masuk ke dalam angkatan kedua program akselerator tersebut adalah Blynk, Cheers, Dana Bijak, Datanest, Duit Hape, Eresto, Gandeng Tangan, Gringgo, Indogold, Manpro, Periksa ID, Trukita, dan Weston.

Perusahaan-perusahaan tersebut terpilih melalui proses seleksi ketat yang diikuti oleh 300 perusahaan. Proses seleksi berlangsung selama sebulan penuh pada Oktober 2017 melalui tahapan kelengkapan dokumen, pitching, hingga pengambilan keputusan melalui voting seluruh investor dan rekanankorporasi PnP.

Beberapa sektor yang digeluti belasan startup itu mulai dari platform fintech penyedia jasa pembayaran dan pinjaman, penyedia solusi pengelolaan sampah terintegrasi, penyediaan layanan pengawasan proyek konstruksi scara real time, layanan logistik bagi usaha kecil menengah, hingga penyediaan sistem energi terbarukan di daerah terpencil.

“Banyak permasalahan yang dapat terselesaikan dengan teknologi yang ditawarkan,” ujarnya.

Salah satu perusahaan rintisan peserta program akselerator itu merupakan startup yang berkedudukan di Singapura, yakni Cheers Global Wallet. “Kenapa startup dari Singapura juga diterima? Karena mesti diakui ekosistem teknologi kita masih tertinggal bila dibanding Singapura. Itu mengapa kami juga membuka kesempatan bagi startup luar,” ujarnya.

Sebelumnya, program akselerator yang sama juga dilakukan pada tahun lalu dengan melibatkan sebanyak 9 perusahaan rintisan.  Sebanyak 5 di antaranya telah memperoleh pendanaan tahap lanjutan yang totalnya mencapai US$1 juta.

Perusahaan yang berkantor pusat di Silicon Valley itu memiliki jaringan bisnis lebih dari 200 korporasi, investor, universitas, dan partner yang menggeluti binis berbagai bidang. Seperti retail, fintech, IoT, media, dan komputasi awan. Plug and Play memiliki tercatat memiliki portofolio investasi lebih dari 350 startup teknologi yang tersebar di berbagai negara.

GK–Plug and Play menjalin kerjasama dengan empat korporasi lokal di Indonesia, yaitu Astra Internasional, BNI, BTN, dan Sinar Mas. “Seed funding hanyalah sebagian kecil dari investasi yang kami berikan. Lebih dari itu, kami dapat menjembatani startup dengan corporate partner untuk kerjasama yang saling menguntungkan  agar startup berkembang dengan lebih cepat,” ujar Wesley.

Tag : StartUp
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top