Elon Musk, Si Jenius yang Pernah Jadi Korban Bully

Elon Musk adalah tokoh bisnis, penemu, dan industrialis Amerika Serikat. Ia merupakan pendiri dan CEO SpaceX, perusahaan transportasi antariksa Amerika Serikat (AS), yang berencana meluncurkan roket terbesarnya, Falcon Heavy, pada akhir bulan ini.
Renat Sofie Andriani | 09 Januari 2018 09:40 WIB
Elon Musk - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Elon Musk adalah tokoh bisnis, penemu, dan industrialis Amerika Serikat. Ia merupakan pendiri dan CEO SpaceX, perusahaan transportasi antariksa Amerika Serikat (AS), yang berencana meluncurkan roket terbesarnya, Falcon Heavy, pada akhir bulan ini.

Sang pendiri perusahaan, Elon Musk, mengklaim bahwa daya dorong roket ini setara dengan 18 pesawat Boeing 747 berkecepatan penuh.

Tak hanya SpaceX, Musk juga diketahui sebagai si jenius di belakang sejumlah perusahaan ternama berbasis teknologi, sebut saja Tesla, PayPal, dan SolarCity. Musk memang memiliki ambisi tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia bersikukuh akan membangun koloni manusia di planet Mars, tak peduli apa kata orang.

Dengan estimasi nilai kekayaan sebesar US$20,8 miliar, Elon menempati peringkat ke-21 orang terkaya di AS dalam daftar Forbes 400 2017. Pada Desember 2016, Forbes menobatkannya sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Jika Anda penggemar film The Avengers, Anda mungkin akan melihat Elon sebagai Tony Stark di dunia nyata. Pintar, berambisi, kaya, inovatif, dan pastinya sukses di mana-mana. Seperti halnya sejumlah tokoh inspiratif lainnya, pebisnis yang banyak dielu-elukan ini ternyata memiliki masa lalu yang tak semulus dugaan.

Sumber: inverse

Si introvert yang sering dibully

Lahir pada tanggal 28 Juni 1971 di Pretoria, Afrika Selatan, pria bernama lengkap Elon Reeve Musk ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Errol Musk dan Maye Musk. Dilansir dari berbagai sumber, setelah kedua orang tuanya bercerai pada tahun 1980, Elon memutuskan tinggal bersama ayahnya.

Saat-saat tinggal bersama ayahnya di kemudian hari digambarkan oleh Elon beserta adik lelakinya, Kimbal, sebagai masa yang sulit. Errol dikabarkan bersifat keras dan kerap menceramahi kedua anaknya selama berjam-jam.

Dibandingkan dengan kedua adiknya, Elon cenderung pendiam dan introvert. Saking pendiamnya Elon, sehingga pernah membuat cemas sang Ibu yang takut bahwa pendengaran anaknya ini kemungkinan terganggu. Sifatnya yang introvert ini diamini oleh sang Ayah.

“Saat banyak orang pergi berpesta, bersenang-senang, minum, dan membicarakan berbagai hal seperti rugby atau olah raga, Anda akan melihat Elon menyusuri lemari buku dan mencermati setiap buku yang ada,” tutur Errol.

Selepas menjalani pendidikan dasar di di Waterkloof House Preparatory School, Elon masuk sekolah khusus murid laki-laki Pretoria Boys High School. Masa-masa pendidikan di bangku sekolah umum digambarkan kelam olehnya. Tak jarang ia mengalami perundungan (bully) oleh siswa di sekolahnya. Pada suatu waktu ia bahkan pernah dipukuli hingga masuk rumah sakit.

Sumber: Bloomberg

“Saya dipancing keluar dari persembunyian sehingga bisa dipukuli. Itu menyakitkan. Mereka akan mengejarku tanpa henti. Itulah yang membuat saya tumbuh sulit. Kemudian ketika saya pulang ke rumah, keadaannya juga sama menyakitkan,” ungkap Elon.

Satu hal yang menjadi tempat pelarian dalam menjalani masa kecilnya adalah teknologi. Ketika masih berusia 10 tahun, ia mulai tertarik dengan keterampilan komputasi dan mengenal pemrograman melalui Commodore VIC-20.

Pada tahun 1983, di usia 12 tahun, ia menciptakan sebuah game sederhana yang diberi nama 'Blastar' dan berhasil menjualnya ke sebuah majalah komputer dengan harga US$500. “Sebuah game biasa namun lebih baik daripada 'Flappy Bird',” katanya di kemudian hari.

Jatuh cinta pada fisika

Lulus dari Pretoria Boys High School, Elon pindah ke Canada dan berkuliah di Queen's University, Ontario, tempat yang sama di mana ia bertemu dengan calon istri pertamanya, Justin Wilson. Setelah melalui dua tahun, Elon dipindahkan ke University of Pennsylvania dan meraih gelar di bidang fisika serta bidang ekonomi dari Wharton School.

Di antara kedua bidang tersebut, fisikalah yang paling menarik minatnya. “(Fisika) adalah kerangka yang baik untuk berpikir. Mencari tahu hingga kebenaran fundamentalnya dan alasan yang datang darinya,” ungkapnya suatu waktu.

Usianya telah beranjak 24 tahun ketika ia pindah ke California untuk mengambil gelar PhD dalam bidang fisika terapan di Stanford University. Namun seiring dengan booming internet dan popularitas Silicon Valley, yang dipandang sebagai kawasan lahirnya industri teknologi dunia, Elon meninggalkan program PhD-nya dan memilih berwirausaha.

Inovator ulung

Dengan bermodalkan dana senilai US$28.000, Elon bersama adik lelakinya, Kimbal, mendirikan sebuah perusahaan web software pada tahun 1995 bernama Zip2. Perusahaan ini membantu mengembangkan panduan kota secara online bagi industri surat kabar. Klien mereka di antaranya adalah New York Times dan Chicago Tribune.

Kerja keras Zip2 pun terbayar ketika perusahaan komputer ternama di Amerika Serikat (AS) Compaq mengakuisisi Zip2 dengan nilai kesepakatan lebih dari US$300 juta.

Elon kemudian mendirikan sebuah perusahaan perbankan berbasis online bernama X.com. Dia meluncurkan X.com pada tahun 1999 yang didanai oleh sebagian uang yang ia peroleh dari penjualan Zip2. Sekitar setahun kemudian, X.com bergabung dengan Confinity, sebuah startup finansial yang dibuat oleh Peter Thiel, untuk membentuk PayPal.

Perjalanan PayPal ternyata tidak seperti yang diharapkan. Pada Oktober 2000, Elon diturunkan dari posisinya sebagai CEO PayPal akibat perselisihan dengan sesama anggota direksi perusahaan meski tetap menjabat sebagai anggota dewan.

Perselisihan ini dikabarkan dipicu oleh keinginan Elon untuk memindahkan server mereka dari sistem operasi Unix ke Microsoft Windows. Pada tahun 2002, PayPal diakuisi oleh eBay senilai US$1,5 miliar. Sebagai pemegang saham terbesar PayPal sebelum akuisisi, nilai kekayaan Elon pun bertambah.

Bahkan sebelum akuisisi PayPal difinalisasi, ia telah memiliki visi untuk membawa elemen kehidupan ke Mars. Ia pernah mencoba membeli sejumlah rudal non aktif milik Soviet. Karena merasa rudal-rudal itu dihargai terlalu tinggi, Elon pun mempertimbangkan membuatnya sendiri dengan harga lebih rendah.

Sumber: Burbuja.info

Pada awal tahun 2002, ia mendirikan Space Exploration Technologies yang populer disebut SpaceX dengan investasi senilai US$100 juta. Pada tahun 2009, roket pertama SpaceX berhasil diluncurkan untuk menempatkan sebuah satelit di orbit bumi. Sejak itu, SpaceX mampu terus menuliskan sejarah bagi perkembangan teknologi antariksa.

Dalam suatu wawancara pada 2011, Elon mengungkapkan harapannya mengirimkan manusia ke permukaan planet Mars dalam jangka waktu 10-20 tahun. Pada September 2016, ia menjabarkan rencana untuk menjelajahi dan menciptakan koloni kehidupan di planet Mars.

Dalam biografi bertajuk Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future yang ditulis oleh Ashlee Vance, Elon mengutarakan keinginannya mendirikan koloni manusia di Mars pada tahun 2040, dengan populasi sebesar 80.000 jiwa. Terkait ambisi untuk cita-citanya ini, ia pernah berkata bahwa SpaceX tidak akan melakukan IPO hingga 'transporter koloni Mars' beroperasi secara teratur.

Rupanya kesibukan Elon tidak melulu berkutat pada teknologi antariksa. Ia juga mengeksplorasi teknologi mobil di darat melalui perusahaannya, Tesla Motors. Pada tahun 2004, Musk mengambil langkah pertama dari total investasi senilai US$70 juta pada Tesla, sebuah perusahaan mobil listrik yang didirikan oleh eksekutif startup Martin Eberhard.

Elon kemudian memiliki peran penting terkait produksi mobil di perusahaan, dengan membantu mengembangkan mobil pertamanya, yakni Roadster. Tesla Motors membuat mobil sport elektrik pertamanya itu pada tahun 2008 dengan penjualan sekitar 2.500 kendaraan ke 31 negara.

Seperti tidak pernah kehabisan energinya berbisnis, Elon juga memiliki ide mendirikan sebuah perusahaan penyedia energi bersih yang diberi nama SolarCity. Pada tahun 2013, SolarCity merupakan penyedia sistem tenaga surya terbesar di AS. SolarCity diakuisisi oleh Tesla pada tahun 2016 dan saat ini berlaku sebagai anak perusahaan dengan visi membantu memerangi pemanasan global.

Melihat cengkeramannya di dunia bisnis rasanya sulit membayangkan bahwa ia pernah mengalami krisis finansial. Tahun 2008 ternyata ia gambarkan sebagai tahun terburuk dalam hidupnya. Keuangan Tesla menipis dan SpaceX mengalami permasalahan saat meluncurkan roket Falcon 1-nya.

Naik Turun Bisnis

Pada tahun 2009, Elon bahkan harus mengandalkan pinjaman pribadinya hanya untuk bertahan hidup. Kondisi ini diperburuk oleh perceraian dengan istri pertamanya. Namun sekitar periode Natal 2008, situasi mulai berangsur pulih.

Ada dua kabar baik, SpaceX membukukan kontrak senilai US$1,5 miliar dengan NASA untuk mengirimkan pasokan ke luar angkasa, dan Tesla akhirnya menemukan lebih banyak investor eksternal.

Pada tahun 2010, Tesla berhasil melakukan penawaran saham perdananya (initial public offering/IPO) dan menghimpun dana senilai US$226 juta pada bulan Juni, sekaligus menjadikannya perusahaan mobil pertama yang go public sejak Ford pada tahun 1956.

Pada Agustus 2013, Elon lagi-lagi muncul dengan konsep teknologi baru, kali ini untuk sistem transportasi berkecepatan tinggi bernama Hyperloop. Kereta berkecepatan super tinggi ini bergerak dalam tabung hampa udara, yang secara teoritis dapat membawa penumpang dari Los Angeles ke San Francisco hanya dalam 30 menit.

Untuk menyertai misinya itu, ia mendirikan the Boring Company dengan misi menggali jaringan terowongan di bawah dan di sekitar kota untuk berkendara dengan kecepatan tinggi dan tanpa lalu lintas. Ia telah mendiskusikan gagasan membangun terowongan antara New York dan Washington D.C. yang dapat digunakan untuk hyperloop.

Kemudian pada akhir 2015, Elon mendirikan OpenAI yang didedikasikan untuk meneliti kecerdasan buatan (artificial intelligence) sehubungan dengan keberadaannya terhadap keberlangsungan hidup manusia.

Sumber: AZ Quotes

Di dunia politik, ia pernah bergabung dengan dewan penasihat bisnis Presiden Trump dan sempat memicu menyebabkan reaksi publik yang besar. Awalnya Elon berargumen bahwa dia akan bisa menggunakan kedekatannya dengan Gedung Putih untuk melakukan perubahan. Tapi ia kemudian memutuskan mundur setelah Trump menarik AS keluar dari Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim.

Tidak bisa hidup sendiri

Elon bertemu istri pertamanya, Justine Wilson, ketika keduanya berkuliah di Queen’s University. Mereka menikah pada tahun 2000 dan memutuskan bercerai delapan tahun kemudian. Pernikahan keduanya membuahkan enam anak yakni seorang anak laki-laki dinamai Nevada Alexander Musk, yang meninggal ketika masih bayi, sepasang anak kembar, dan kembar tiga.

Pada tahun 2010, Elon terang-terangan mengungkapkan rasa cintanya yang begitu besar kepada anak-anaknya. Ia berkomitmen untuk mengupayakan membagi waktu bersama kelima anaknya.

Pasca perceraian dengan Justine, Elon mulai menjalin hubungan dengan aktris asal Inggris Talulah Riley dan menikah pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, kabar tentang perceraian mereka tersiar. Keduanya namun kembali menjalin hubungan dan menikah pada tahun 2013.

Pada tahun 2016, Talulah mengajukan permohonan cerai yang difinalisasikan pada akhir 2016. Meski berpisah, keduanya tetap berhubungan baik dan saling memberi dukungan satu sama lain. Pada tahun yang sama, Elon mulai berhubungan dengan aktris Hollywood Amber Heard namun keduanya berpisah setahun kemudian akibat kesibukan masing-masing.

Dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone, Elon pernah mengatakan bahwa ia tidak bisa bahagia jika tidak sedang jatuh cinta. “Saya tidak akan pernah bahagia tanpa memiliki seseorang. Berada di sebuah rumah yang besar tanpa seorangpun bukanlah suatu kondisi yang membahagiakan,” ungkapnya.

Sumber: Celebrity Family

Tag : tokoh, tesla motors, elon musk
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top