Indonesia Punya Klaster Baja Baru di Batu Licin, Kalimantan Selatan

Pembangunan klaster baja nasional bakal bertambah dengan proyek di Batu Licin, Kalimantan Selatan. Sebelumnya, pemerintah menetapkan proyek pembangunan klaster baja Cilegon dan Morowali untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Annisa Sulistyo Rini | 11 Desember 2017 18:55 WIB
Ilustrasi - Reuters/Sheng Li

Bisnis.com, JAKARTA—Pembangunan klaster baja nasional bakal bertambah dengan proyek di Batu Licin, Kalimantan Selatan. Sebelumnya, pemerintah menetapkan proyek pembangunan klaster baja Cilegon dan Morowali untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Seperti diberitakan sebelumnya, klaster baja Cilegon bakal memproduksi 10 juta ton baja karbon pada 2025, sedangkan klaster Morowali memproduksi stainless steel sebesar 3,5 juta ton pada 2020.

"Kemarin sudah ditandatangani MoU untuk membangun klaster baja 3 juta ton di Batu Licin," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Sepanjang tahun lalu konsumsi baja tercatat sebesar 12,7 juta ton. Produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sehingga sisanya harus diimpor.

Dengan kebijakan pemerintah yang saat ini fokus dalam pembangunan infrastruktur, permintaan baja hingga 2025 diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 21,4 juta ton.

Saat dikonfirmasi, Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan pembangunan klaster baja tersebut rencananya dilakukan oleh investor asal China Shenwu Technology Group Corp. Co, Ltd. menggandeng partner lokal, yaitu PT Gunung Garuda. Setelah penandatanganan nota kesepahaman, keduanya akan mempelajari dahulu potensi yang ada di Batu Licin. 

Menurutnya, di wilayah tersebut, terdapat batu bara dan pasir besi yang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan hasil impor. Investor asal China tersebut memiliki teknologi yang dapat memanfaatkan batu bara dan pasir besi low rank.

"Mereka mau investasi karena potensi pasar di Asean dan di Indonesia masih besar. Produknya nanti carbon steel, kami harap bisa sampai produk hilir," ujarnya.

Terkait investasi, Harjanto tidak menyebutkan secara pasti. Namun, dia menggambarkan investasi Krakatau Posco untuk pabrik baja berkapasitas sama beserta powerplant mencapai sekitar US$3 miliar. Adapun, investasi di Morowali mencapai sekitar US$900 juta dengan powerplant senilai US$700 juta. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top