Ekspor Jagung Disiapkan Mulai 2018

Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta jajarannya di Kementerian Pertanian untuk mempersiapkan rencana ekspor jagung ke Malaysia dan Filipina pada 2018. Rencana ini menyusul perkiraan produksi jagung nasional berdasarkan angka ramalan II pada 2017 mencapai 27,9 juta ton.
Azizah Nur Alfi | 26 November 2017 16:19 WIB
Petani menjemur jagung di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/8). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta jajarannya di Kementerian Pertanian untuk mempersiapkan rencana ekspor jagung ke Malaysia dan Filipina pada 2018. Rencana ini menyusul perkiraan produksi jagung nasional berdasarkan angka ramalan II pada 2017 mencapai 27,9 juta ton.

Dalam pelantikan 8 pejabat pimpinan tinggi pratama Kementerian Pertanian pada Jumat (24/11/2017), Amran mengatakan pemerintah akan menggarap peluang ekspor jagung ke Malaysia sekitar 3 juta ton - 4 juta ton dan Filipina 1 juta ton. Dia meyakini Indonesia telah mencapai swasembada jagung sehingga dapat mencukupi kebutuhan jagung negara tetangga.

Kebutuhan jagung sebagai bahan pakan ternak rata-rata 950.000 ton per bulan, terdiri dari 700.000 untuk industri pakan dan 250.000 untuk peternak mandiri. Adapun, produksi jagung meningkat signifikan sejak 2015 sebesar 19,6 juta ton, menjadi 23,5 juta ton pada 2016 dan diperkirakan 27,9 juta ton pada 2017.

"Dua menteri [Malaysia dan Filipina] ingin investasi di sini. Mereka butuh jagung 3 juta - 4 juta ton per tahun," kata dia.

Amran menargetkan Indonesia dapat mencapai 3 negara produsen jagung terbesar pada 2020. Optimisme ini setelah Indonesia mampu naik peringkat menjadi produsen jagung terbesar ke-7 dari posisi ke-9 tiga tahun lalu.

Kementerian Pertanian memacu produksi jagung nasional melalui penambahan luas tanam dari 3 juta ha pada 2017 menjadi 4 juta ha melalui alokasi APBN 2018 sebesar Rp2,9 triliun. Pada September 2017, realisasi area tanam baru tercapai 1 juta ha dari alokasi 3 juta ha.

Meski demikian, harga jagung masih menjadi tantangan bagi industri peternakan nasional. Produksi jagung diklaim berlebih, tetapi harga penjualan jagung selalu di atas ketentuan harga acuan yang diatur pemerintah. Hal ini terungkap dalam diskusi seputar prospek industri peternakan nasional 2018 di IPB International Convention Center, pekan lalu.

Sekertaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Askam Sudin menyampaikan harga jagung tidak pernah mengikuti ketentuan harga acuan yang diatur melalui Permendag Nomor 27 Tahun 2017. Harga jagung di tingkat petani sekitar Rp3.800 per kg - Rp4.000 per kg, selanjutnya tiba di pabrik pakan menjadi Rp4.200 per kg - Rp4.300 per kg.

Berdasarkan Permendag Nomor 27 Tahun 2017, harga pembelian di tingkat petani Rp3.150 per kg dan harga acuan penjualan di konsumen Rp4.000 per kg.

Ketua Umum GPPU Krissantono mengatakan naiknya harga jagung menunjukkan pasokan yang terbatas. Oleh karena itu, perlu evaluasi kebijakan pakan oleh pemerintah.

Diketahui, sejak 2016 pemerintah memperketat rekomendasi impor jagung, berlanjut pada 2017 Kementerian Pertanian tidak mengeluarkan rekomendasi impor jagung. Dalam Permentan Nomor 57 Tahun 2015, impor jagung untuk pakan ternak harus mendapatkan rekomendasi dari Kementan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top