Ekspor Log: ISWA Bakal Layangkan Surat Keberatan Lagi

Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia (ISWA) akan mengirim lagi surat keberatan atas wacana ekspor kayu bulat yag disuarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Sri Mas Sari | 22 November 2017 17:40 WIB
Perajin menjual mebel kayu berkeliling menggunakan sepeda motor, di Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, Senin (6/3). - Antara/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia (ISWA) akan mengirim lagi surat keberatan atas wacana ekspor kayu bulat yag disuarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Surat itu akan dilayangkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan. Ketua Umum ISWA Soewarni mengatakan gagasan membuka kembali kran ekspor log hanya untuk menolong Perhutani yang keuangannya kurang baik bukanlah langkah tepat.

"Kami akan kirim surat lagi. Mungkin bersama asosisasi lain yang tidak setuju, misal HIMKI [Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia]," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/11/2017).

ISWA sempat berkirim surat keberatan kepada tiga menteri yang sama pada Januari tahun ini. Ketidaksetujuan itu didasarkan pada beberapa pertimbangan.

Pertama, sebagian besar anggota ISWA yang merupakan usaha kecil dan menengah, padat karya, dan tersebar di seluruh Indonesia akan terkena dampak akibat kekurangan bahan baku kayu. Industri pengolahan kayu bisa tutup dan berakibat pemutusan hubungan kerja yang pada gilirannya menimbulkan kerawanan sosial.

Kedua, ekspor kayu gelondongan merupakan langkah mundur mengingat pemerintah menggalakkan penghiliran untuk meningkatkan nilai tambah dan dampak berganda (multiplier effect).

Ketiga, pengalaman menunjukkan pemerintah sulit melarang kembali ekspor kayu bulat pada 2000-an setelah sempat dibuka sepanjang 1998-2001.

Keempat, kebijakan pembukaan kran ekspor akan menguntungkan negara-negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka.

Kelima, ekspor kayu bulat akan menguntungkan sebagian kecil pelaku usaha di bidang kehutanan, tetapi banyak pelaku usaha yang nilai ekspornya tinggi akan kekurangan bahan baku.

Keenam, nilai ekspor kayu bulat tidak sebanding dengan nilai kerusakan hutan yang ditimbulkan.

Ketujuh, langkah Indonesia membuka kran ekspor log bertolak belakang dengan kebijakan yang ditempuh banyak negara di dunia. ISWA mencatat ada 35 negara yang melarang ekspor kayu log, a.l. Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, Ukraina, dan Malaysia.

Berdasarkan data ISWA, kebutuhan bahan baku kayu bulat industri woodworking pada 2015 mencapai 16,6 juta m3 dan menghasilkan ekspor hampir 5 juta m3. Sepanjang Januari-Juni 2016, kebutuhan bahan baku 7,2 juta m3 dan menghasilkan ekspor 2,2 juta m3.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kayu

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top