INSA Optimistis Bisnis Pelayaran 2018 Bakal Lebih Baik

Kalangan pengusaha pelayaran optimistis laju bisnis 2018 bakal kencang berkat pemulihan di segmen curah dan tongkang. Adapun, segmen pelayaran lepas pantai atau offshore diperkirakan masih lesu.
Rivki Maulana | 21 November 2017 20:06 WIB
Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto (kanan), memberikan paparan didampingi Wakil Ketua Umum II Darmadi Go, saat diskusi Strategi Percepatan Penerapan Cabotage Naik Kelas di Jakarta, Senin (25/9). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Kalangan pengusaha pelayaran optimistis laju bisnis pada 2018 bakal moncer berkat pemulihan di segmen curah dan tongkang. Adapun, segmen pelayaran lepas pantai atau offshore diperkirakan masih lesu.

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto mengatakan kondisi pelayaran offshore masih lesu karena aktivitas kontraktor migas redup sebagai imbas dari tren harga minyak dunia yang belum kembali ke level ideal.

Untuk diketahui, dalam setahun terakhir harga minyak WTI dan Brent memang naik menjadi US$56,61 dan US$64,42 per barel. Namun harga tersebut masih di bawah level kejayaan harga minyak tiga tahun silam yang sempag menyentuh level US$100 per barel.

“Dan hingga saat ini, belum terlihat geliat offshore pada tahun depan, karena harga minyak belum menunjukkan level ideal untuk dilakukan aktivitas pengeboran kembali,” ujar jelas Carmeilita, Selasa (21/11/2017).

Di segmen curah, perusahaan pelayaran memproyeksi angkutan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) bakal pulih, terutama untuk angkutan ekspor. Hal ini disebabkan para pengusaha memilih menggenjot pasar ekspor seiring dengan kenaikan harga.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sebelumnya melansir hingga September 2017 terdapat kenaikan permintaan dari Timur Tengah sebesar 26%, Pakistan 9%, dan Uni Eropa 1%. Secara keseluruhan, hingga September 2017 kinerja eskpor minyak sawit masih berada dalam tren positif dengan total volume 2,76 juta ton.

Sementara itu, di pasar domestik usaha pengangkutan di segmen tongkang (barge) menikmati dampak dari pembangunan infrastruktur. Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim mengatakan pemilik kapal tongkang banyak mendapat permintaan angkutan batu, beton, pasir, semen dan lainnya.

Angkutan batu bara curah juga dinilai sudah mengalami pemulihan. Hal ini tercermin dari kenaikan permintaan kapal tug boat dan tongkang untuk angkutan batu bara. "Saat ini tidak ada kapal (tongkang) iddle atau menganggur bahkan cenderung kekurangan kapal," imbuhnya.

Di sisi lain, angkutan general kargo dan kontainer diperkirakan bakal stabil pada 2018. Budhi mengatakan, tren di segmen pelayaran kargo bakal mengikuti pertumbuhan ekonomi. Budhi menambahkan, berbagai kebijakan pemerintah pro-maritim seperti Tol Laut bakal memberi dampak positif terhadap industri pelayaran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
insa

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top