Kemendag: Relokasi Ritel Fesyen ke Daearah Akibat Perubahan Pola Belanja

Relokasi sejumlah toko ritel dari ibu kota ke daerah dinilai sebagi upaya untuk menyikapi perubahan pola belanja masyarakat.
M. Nurhadi Pratomo | 21 November 2017 16:31 WIB
Stan pakaian tampak kosong di Lotus Departmen Store, Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Relokasi sejumlah toko ritel  dari ibu kota ke daerah dinilai sebagi upaya untuk menyikapi perubahan pola belanja masyarakat.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri menilai saat ini di kota besar seperti Jakarta penjualan online atau daring untuk produk fesyen lebih mendominasi dibandingkan dengan produk lainnya. Akibatnya, penjualan offline atau melalui gerai fisik ritel fesyen di kota besar menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kinerja penjualan mereka.

Fenomena tersebut, sambungnya, membuat peritel melakukan ekspansi atau merelokasi bisnis mereka ke daerah. Langkah itu ditempuh untuk menyikapi perubahan pola belanja masyarakat di kota-kota besar.

“Mengingat kota-kota di daerah pola belanjanya belum banyak berubah ke sistem daring, sehingga strategi tersebut sejalan dengan syarat bisnis ritel yang harus mempunyai turn over dengan volume penjualan cukup besar,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa  (21/11/2017).

Kasan meyakini volume penjualan yang cukup besar masih bisa diperoleh di daerah. Di sisi lain, langkah tersebut menurutnya dapat mendorong terjadinya pemerataan ekonomi ke daerah.

“Positifnya dari sisi ekonomi akan menumbuhkan produksi barang dari daerah tersebut yang dibutuhkan oleh pebisnis ritel,” imbuhnya.

Menurut catatan Bisnis, The Nielsen Company Indonesia menyebut pertumbuhan ritel nasional hanya 2,7% selama periode Januari-September 2017. Sementara itu, pertumbuhan normal tahunan dalam periode tersebut adalah 11%.  

Khusus untuk ritel modern, kenaikannya tercatat sebesar 3,3%. Pada September terlihat peningkatan yang lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yakni sekitar 5,1%. Adapun pada Juli terjadi penurunan 4,1% dan pada Agustus hanya tumbuh 1,5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top