Segmen Ship to Ship Bakal Kerek Pendapatan Jasa Armada

Perusahaan jasa pemanduan dan penundaan kapal, PT Jasa Armada Indonesia mengestimasi bakal ada tambahan pendapatan baru dari segmen anyar ship to ship yang bakal digarap perseroan. Dari segmen ini, JAI berpotensi mendapat tambahan pendapatan sebesar Rp200 miliar.
Rivki Maulana | 20 November 2017 17:46 WIB
Kapal tunda (tug boat) melintas di Selat Madura, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (15/3). - Antara/Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA -- Perusahaan jasa pemanduan dan penundaan kapal, PT Jasa Armada Indonesia mengestimasi bakal ada tambahan pendapatan baru dari segmen anyar ship to ship yang bakal digarap perseroan. Dari segmen ini, JAI berpotensi mendapat tambahan pendapatan sebesar Rp200 miliar.

Dawam Atmosudiro, Direktur Utama Jasa Armada mengatakan segmen ship to ship (STS) yang bakal dilayani perseroan merupakan ceruk pasar baru. Jasa Armada telah mendapat limpahan wewenang dari Kementerian Perhubungan untuk menyelenggarakan jasa pandu di wilayah kerja kontraktor migas.

"Saat ini kontribusi [pendapatan] terbesar, 50% masih dari Tanjung Priok. Nanti akan berkurang karena kami akan melayani ship to ship," jelasnya saat berkunjung ke redaksi Bisnis Indonesia, Senin (20/11/2017).

Bebertapa titik layanan pemanduan di segmen ship to ship yang akan digarap Jasa Armada antara lain di Tanjung Jabung Jambi dan Muara Musi. Dua titik lainnya di Kepulauan Seribu dan Pebelokan, Karawang Timur.

Sementara itu, saat ini wilayah operasional jasa armada berada di 12 pelabuhan yang dikelola induknya, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation. Wilayah kerja 12 pelabuhan itu terbentang dari Sumatera bagian Barat dan Selatan, Jawa bagian Barat, dan Kalimantan Barat.

Direktur Komersial & Operasi Jasa Armada, Capt. Supardi mengatakan di Kepulauan Seribu, perseroan bakal melayani jasa pandu untuk PT Nusantara Regas. Jasa Armada dalam waktu juga bakal mendapat limpahan wewenang jasa pemanduan di perairan Jambi di mana perseroan bakal memberikan layanan pandu untuk Petrochina di Tanjung Jabung.

"SKK Migas itu ada 18 lokasi lho, mereka cari perusahaan seperti kami yang punya pengalaman dan sumber daya manusia. Karena kami punya limpahan [wewenang jasa pandu], ya ini jadi penghalang pemain lain masuk," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jasa Armada Indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top