IFC Kerja sama dengan Ciputra Residence untuk Promosikan Bangunan Hijau

International Finance Corporation (IFC), afiliasi Kelompok Bank Dunia, memberikan sertifikasi desain (preliminary) kepada proyek Citra Maja Raya dari PT Ciputra Residence dengan sertifikasi Excellence in Design for Greater Efficiency (EDGE). Proyek ini pun diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat, dan Menteri Perhubungan.
Anitana Widya Puspa | 19 November 2017 02:59 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—International Finance Corporation (IFC), afiliasi Kelompok Bank Dunia, memberikan sertifikasi desain (preliminary) kepada proyek Citra Maja Raya dari PT Ciputra Residence dengan sertifikasi Excellence in Design for Greater Efficiency (EDGE). Proyek ini pun diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat, dan Menteri Perhubungan.

PT. Ciputra Residence, sebagai perusahaan yang mengedepankan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, adalah perusahaan pertama di Kawasan Asia Timur Pasifik yang mendapatkan penghargaan sertifikasi EDGE Green Building IFC, pada Oktober 2014.

Sejak saat itu, perusahaan tersebut telah memperoleh sertifikasi EDGE untuk proyek-proyek berikutnya dan terus memperbarui komitmennya untuk mengembangkan bangunan hijau dalam skala yang lebih besar, sebagaimana yang mereka terapkan saat mereka mengembangkan kawasan terpadu Citra Maja Raya, serta pengembangan lain yang mereka lakukan bersama afiliasinya di Hanoi, Vietnam.

Budiarsa Sastrawinata, Direktur Utama PT. Ciputra Residence mengungkapkan dengan lebih dari 130 proyek di Indonesia dan luar negeri, kami percaya pengembangan dengan konsep 'hijau' dapat meningkatkan nilai investasi, mampu memberikan stabilitas dan keberlanjutan, yang dapat memperkuat posisi pasar dari pengembangan properti kami, terutama untuk proyek baru berskala besar

"Dalam skala ekonomi, kami mengantisipasi bahwa teknologi hijau akan lebih maju dan lebih terjangkau, seiring dengan meningkatnya keterlibatan pemerintah, kebutuhan terhadap fitur yang lebih hijau dan berkelanjutan untuk proyek property, akan terus meningkat,"katanya Sabtu (18/11).

Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dan penghasil gas rumah kaca terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, China dan India. Sebagai bagian dari rencana untuk mengurangi emisi hingga 29 persen pada tahun 2030, pemerintah mendorong efisiensi energi yang lebih tinggi pada bangunan. Sektor bangunan adalah konsumen energi akhir terbesar ketiga setelah sektor industri dan transportasi. Di Indonesia, bangunan gedung bertingkat mengkonsumsi sekitar 27 persen dari total konsumsi energi secara keseluruhan, angka ini diprediksi akan meningkat menjadi hampir 39 persen pada tahun 2030.

"EDGE membantu melakukan mitigasi perubahan iklim dengan cara mendorong pengembang untuk membangun bagunan yang hemat energi, yang secara langsung akan menghasilkan penghematan biaya yang signifikan dari waktu ke waktu," kata Azam Khan, Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia dan Timor-Leste.

"IFC sebagai pelopor dalam ruang bangunan hijau, terus berkomitmen akan mempromosikan standar baru, mekanisme pembiayaan, dan peraturan untuk konstruksi hijau. Kami akan terus menciptakan pasar serta mendorong tingkat investasi hijau yang lebih tinggi.”

IFC menyediakan perangkat lunak EDGE secara gratis, yang tersedia dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Perangkat lunak ini diciptakan untuk membantu pengembang lokal, pembangun, dan arsitek lokal untuk membuat pilihan desain berbiaya rendah atau tanpa biaya yang dapat mengurangi konsumsi energi, air, dan material sebesar 20 persen. Dalam dua tahun terakhir, sekitar 30 proyek besar di Indonesia telah disertifikasi EDGE atau sedang menjalani prosesnya. Proses tersebut telah menunjukkan dampak yang jelas dan sebagai awal penciptaan pasar.

Dengan dukungan mitra lokal IFC bertujuan untuk mengubah 20 persen dari proyek konstruksi baru (setara dengan 80.000 unit rumah) menjadi inisiatif hijau di beberapa kota pada tahun 2021. Dengan melakukan terobosan dalam pelaksanaan inisiatif hijau, diharapkan dapat mengurangi 1,2 juta metrik ton emisi gas rumah kaca per tahun, mengurangi penggunaan energi 500 megawatt/jam, dengan demikian mampu melakukan penghematan hampir $ 200 juta per tahun pada tahun 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis properti

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top