Hardys Pailit dengan Utang Rp2,3 Triliun

pendiri jaringan ritel di Bali, Hardys, I Gede Agus Hardiawan mengungkapkan hadirnya E-Commerce sebagai salah satu alasan yang menyebabkan perusahaannya pailit dengan utang sebesar Rp2,3 triliun.
Ni Putu Eka Wiratmini | 18 November 2017 11:57 WIB
Jaringan ritel di Bali Hardys dinyatakan pailit. - Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR - Pendiri jaringan ritel di Bali, Hardys, I Gede Agus Hardiawan mengungkapkan hadirnya E-Commerce sebagai salah satu alasan yang menyebabkan perusahaannya pailit dengan utang sebesar Rp2,3 triliun.

Hardiawan mengungkapkan perusahaannya memang telah diputuskan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya terhitung sejak 9 November 2017. Diakuinya, Hardys terkena dampak berkembang pesatnya E-Commerce di Bali.

Dikatakan, perusahaannya terlambat mengantisipasi kesempatan bermain di dunia digital. Ketika kompetitornya telah memanfaatkan dunia digital, Hardys belum membangun infratruktur ini.

"Kami gagal bayar ke kreditur senilai Rp2,3 triliun," katanya, Sabtu (18/11/2017).

Dia juga menyebut daya beli masyarakat yang terus menurun ikut mempengaruhi pailitnya Hardys. Menurutnya, secara nasional daya beli masyarakat berada di bawah 20%. Hal ini juga memberi imbas pada perusahaan ritel di Bali, salah satunya Hardys.

"Kami tidak bisa menghadapi persaingan jaringan mart nasional, masyarakat sudah berubah konsep belanja mereka, mulai belanja di toko terdekat, mereka berpikir mendekat ngapain ke kota kalau di desa bisa belanja," ujar Hardiawan.

Selain itu, ekspansi ke properti yang terlalu masif juga mempengaruhi kepailitan ini. Padahal, pihaknya sempat menarget akan ‘go public’ pada 2020.

Hardys memiki 9 lokasi mangkrak di Bali, mulai dari tanah hingga hotel. Parahnya sebanyak 70% sumber pendaan ekspansi Hardys ini berasal dari dana Bank.

"Tatkala dana tidak muter masih beruwujd tanah belum beroperasi karena tidak menghasilkan sementara di bank tidak bayar bunga, jadilah kami gagal bayar ke bank," katanya.

Sebanyak 13 outlet Hardys kini dimiliki oleh PT Arta Sedana Retailindo atas nama Putu Gede Sedana. Sementara, ada 5 outlet PT Hardys Retailindo yang masih atas namanya. Kemungkinan kelima outlet tersebut akan dijual untuk menutupi utang.

Jika masih belum mencukupi, ada 3 hotel dan beberapa properti yang juga akan dijual untuk menutupi utangnya.

"Mudah-mudahan Hardys bisa beroperasi seperti biasa walau bukan atas nama saya lagi, begitu pula dengan asset yang djual bisa dengan harga yang baik tidak grosir," sebutnya,



Tag : ritel
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top