Pelni Beli 6 Kapal untuk Tol Laut

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni membeli enam kapal untuk melayani trayek Tol Laut. Pelni merogoh kocek hingga Rp500 miliar untuk penambahan armada tersebut di mana sumber dana berasal dari penyertaan modal negara (PMN).
Rivki Maulana | 06 November 2017 12:45 WIB
Kapal pemandu milik PT Jasa Armada Indonesia menarik kapal penumpang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (11/10). - JIBI/Endang Muchtar
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni membeli enam kapal untuk melayani trayek Tol Laut. Pelni merogoh kocek hingga Rp500 miliar untuk penambahan armada tersebut di mana sumber dana berasal dari penyertaan modal negara (PMN).
 
Direktur Angkutan Barang & Logistik Pelni, Harry Boediarto mengatakan sebanyak empat kapal bakal datang di sisa dua bulan terakhir tahun ini sedangkan dua kapal lain diharapkan datang pada awal 2018.
 
"Kami beli used [bekas], umurnya di bawah 10 tahun," jelasnya kepada Bisnis.com, dikutip Senin (6/11/2017).
 
Dia menuturkan, kapal yang dibeli Pelni berkapasitas beragam, mulai dari 200 TEUs--300 TEUs dan 350 TEUs--400 TEUs. Menurut Harry, kapal dilengkapi dengan crane agar memudahkan proses bongkar muat kontainer di pelabuhan-pelabuhan yang minim alat bongkar muat. 
 
Sebagaimana diketahui, Pelni mendapat penugasan untuk melayani tujuh rute Tol Laut yakni T-3, T-5, T-6, T-9, T-11, T-12, dan T-13.
 
Trayek yang dilayani Pelni sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tahun depan, Pelni juga menyatakan siap mendapat penugasan lanjutan untuk menggarap trayek baru.
 
Manager PR & CSR Pelni sebelumnya mengatakan tambahan kapal baru membuat frekuensi pelayaran atau voyage bertambah.  Saat ini, satu trayek Tol Laut baru dilayani satu kapal sehingga frekuensi pelayaran terbatas mengingat jarak tempuh yang panjang.
 
Di sisi lain, Pelni juga akan menambah fasilitas pendingin untuk menggenjot muata balik. Harry mengatakan fasilitas pendingin itu antara lain reefer container atau kontainer yang suhu udaranya bisa diatur sesuai kebutuhan.
 
"Kami memang terlambat, swasta itu sudah punya," tukasnya.
 
Dia menjelaskan, teknologi pendingin memungkinkan kualitas hasil bumi, perikanan, maupun produk industri bisa terjaga dalam waktu panjang.
 
Dia menggambarkan, hasil perikanan di  Kawasan Timur Indonesia (KTI) berpeluang mendapat nilai tambah yang lebih tinggi bila diangkut dalam keadaan segar ke Pulau Jawa.
 
Sebaliknya, kualitas produksi hasil industri dari Jawa seperti produk farmasi juga akan lebih terjaga dengan teknologi pendingin ini.
 
Harry menuturkan, bila kualitas barang bisa dijaga dengan prima, arus barang akan tercipta secara alamiah. Walhasil, neraca angkutan antara Jawa dengan KTI yang selama ini timpang secara bertahap bisa menjadi setara.
Tag : pelni
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top