Petani Sejahtera? Ini Kata Kepala BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa nilai tukar petani (NTP) nasional pada Oktober 2017 naik sebesar 0,54 persen menjadi 102,78 dibanding September yang sebesar 102,22.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 November 2017  |  17:25 WIB
Petani Sejahtera? Ini Kata Kepala BPS
Ilustrasi petani - Reuters/Amit Dave

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai tukar petani (NTP) nasional pada Oktober 2017 naik sebesar 0,54 persen menjadi 102,78 dibanding September yang sebesar 102,22.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,49%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,05%.

"NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Kenaikan NTP pada Oktober 2017 dipengaruhi oleh kenaikan NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,64% dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,11%.

Sementara itu subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 0,58 persen, diikuti subsektor peternakan sebesar 0,48% dan subsektor pertanian sebesar 0,02%.

Nilai Tukar Petani merupakan adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani.

Berdasarkan catatan BPS, dari 33 provinsi, sebanyak 27 provinsi mengalami kenaikan NTP, sementara lainnya mengalami penurunan. Provinsi Jambi mengalami kenaikan tertinggi mencapai 1,52% dibandingkan dengan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Sementara NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar yakni 2,12% dibandingkan dengan penurunan NTP provinsi lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar petani

Editor : Martin Sihombing
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top