Koperasi Digicoop Bangun Jaringan Internet Satelit

Digicoop bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) dan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) untuk menyediakan layanan Internet berkecepatan tinggi ke wilayah yang sulit tercapai jaringan kabel.
Pandu Gumilar | 26 Oktober 2017 09:20 WIB
Parabola Satelit (bloomberg)

Bisnis.com, JAKARTA — Digicoop, Koperasi Jasa Digital Indonesia Mandiri, berambisi membangun jaringan Internet berbasis satelit bernilai hingga US$200 juta yang rencananya didanai oleh anggota koperasi.

Ketua Digicoop Henri Kasyfi, mengatakan Digicoop bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) dan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) untuk menyediakan layanan Internet berkecepatan tinggi ke wilayah yang sulit tercapai jaringan kabel.

“APJII punya problem dalam 20 tahun terakhir anggotanya banyak yang tidak bisa membeli last mile. Kalau mau pakai last mile atau network lain kan mereka juga saling berkompetisi,” kata Henri, Senin (25/10).

Infrastruktur last mile adalah titik paling hilir dalam jaringan telekomunikasi yang tersambung secara fisik dengan peralatan pengguna atau pelanggan.

Henri menjelaskan APJII, Mastel, dan Digicoop menilai permasalahan keterbatasan last mile tersebut bisa diatasi oleh ketersediaan jaringan netral berbentuk jaringan serat optik atau satelit. Setelah berembuk, ketiganya kemudian memutuskan menggunakan satelit yang membutuhkan lebih sedikit pembangunan infrastruktur dibandingkan dengan jaringan serat optik.

Digicoop akan menghimpun dana investasi untuk pembangunan jaringan satelit dari para anggota. Oleh karena itu, kata Henri, satelit ini dinamai Satria alias satelit milik rakyat Indonesia. Anggota APJII akan bertindak sebagai penyedia layanan Internet (ISP).

Penyertaan Modal

Bagi masyarakat yang ingin menjadi bagian dari kepemilikan satelit, Digicoop membuka program Penyertaan Modal Koperasi dengan unit investasi Rp5 juta.

Henri mengatakan total nilai investasi untuk mewujudkan program Satria sekitar US$200—300 juta. Namun, nilai tersebut belum ketuk palu.

Terdapat tiga tahapan fase pada program Satria. Fase pertama (2017—2020), Digicoop melakukan akuisisi pada satelit yang sudah mengorbit di Indonesia. Fase kedua (2018—2022), melakukan akuisisi pada satelit yang akan meluncur. Fase ketiga (2022—2025), membangun Satria secara mandiri.

Dia tidak membatasi jumlah satelit yang akan dikelola oleh Digicoop, tergantung seberapa besar permintaan. Apabila satu sampai tiga satelit tidak mencukupi, Digicoop akan terus menambah satelit.

Bagi calon pengguna yang tertarik layanan internet Satelit Satria, Digicoop membanderol dengan harga Rp15 juta selama 10 tahun. Sementara untuk pemakaian bulanan, Digicoop menerapkan harga yang variatif mulai dari Rp500.000. Henri menargetkan pada 2022, 1 juta rumah sudah terkoneksi dengan Satelit Satria.

Sementara itu, Ketua APJII Jamalul Izza mengatakan program ini dapat menjadi solusi bagi pengadaan jaringan akses infrastruktur berbasis satelit sehingga layanan Internet pita lebar dapat tersedia di seluruh Indonesia.

Dia menambahkan Axiata Business Service Sdn. Bhd. telah bersedia menjadi penyedia satelit sebagai mitra dari program Satelit Satria. Operasional Satelit Satria akan diserahkan kepada PT. Rumah Teknologi (NEUSAT).

“Kami menyediakan pipa last mile-nya saja, bandwidth Internet yang menyediakan adalah anggota APJII,” kata Kanaka Hidayat, Direktur Utama NEUSAT.

Sementara itu, Izza berharap dengan model kerja sama ini permasalahan mengenai jaringan infrastruktur akses netral dapat terselesaikan

Tag : broadband
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top