Glints Bidik Pengguna Indonesia Capai 200.000

Glints, platform pencarian dan perekrutan karir secara daring, menargetkan jumlah pengguna aplikasi mampu mencapai 200.000 hingga akhir tahun ini.
Amanda Kusumawardhani | 29 Agustus 2017 15:59 WIB
Ilustrasi. - .thejrc

Bisnis.com, JAKARTA— Glints, platform pencarian dan perekrutan karir secara daring, menargetkan jumlah pengguna aplikasi mampu mencapai 200.000 hingga akhir tahun ini.

Meski belum genap dua tahun beroperasi di Indonesia, optimisme ini dilatarbelakangi oleh gemuknya populasi usia produktif di Indonesia dan mulai masuknya kaum milenial muda ke dunia kerja.

“Target pasar Glints adalah kalangan milenial dengan kisaran usia 18-30 tahun. Sebenarnya kami tidak bermaksud membatasi pasar, tetapi yang banyak mendaftar adalah kalangan mahasiswa dan pencari kerja dengan pengalaman kerja yang terbatas [entry level],” kata Looi Qin En, Chief Operating Officer dan Co-Founder Glints di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Hingga saat ini, pengguna aplikasi ini di Indonesia mencapai 170.000 orang dan 90.000 orang diantaranya adalah mahasiswa. Jumlah perusahaan yang telah menggunakan jasa Glint untuk merekrut sumber daya manusia sebanyak 2.000 unit antara lain Adidas, United Overseas Bank, Grab, Gojek, Kudo, Berrybenka, dan Tokpedia.

Sebaliknya, jumlah pengguna Glints di kantor pusatnya, Singapura, hanya 70.000 orang. Saat ini, jumlah perusahaan yang sudah bergabung dalam aplikasi ini di Singapura mencapai 6.000 unit.   

Qin En mengungkapkan pihaknya tidak membatasi sektor khusus bagi perusahaan untuk menjadi klien Glients selama ini. Kendati demikian, tren yang terjadi di Indonesia adalah rata-rata perusahaan yang bergabung dengan Glints bergerak di sektor teknologi informasi.

Dia merinci profesi yang paling banyak dibutuhkan oleh klien Glints adalah profesi yang bersifat teknis, dan sales. Tingginya kebutuhan untuk dua profesi ini sejalan dengan maraknya kemunculan perusahaan rintisan yang diperkirakan jumlahnya sebanyak 2.000 unit pada tahun ini.

“Tidak hanya terbatas pada perusahaan rintisan [startups], tetapi juga perusahaan multinasional. Kecenderungan saat ini memang lebih banyak perusahaan rintisan yang membutuhkan bantuan dari kami,” tuturnya.

Berbeda dengan sistem perekrutan karir sebelumnya, Glints memiliki koneksi dengan perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara antara lain Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Hal ini tidak terlepas dari pendirian Glints di Singapura pada 2013 dan meluas ke Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Sistem semacam ini memungkinkan pencari kerja untuk mengakses informasi lowongan pekerjaan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke dua negara lainnya. Selain itu, Glints juga fokus untuk menyasar peluang magang mengingat pasar utamanya adalah mahasiswa.

“Dengan memperkenalkan dunia kerja semasa kuliah, saya rasa pengalaman itu akan memberikan gambaran kepada mereka mengenai dunia kerja dan profesi apa yang harus dipilih mereka selepas kuliah. Kami juga aktif menjalin kerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia,” tambahnya.

Adapun, Glints sudah bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Trisakti, dan Universitas Bina Nusantara. Untuk lebih mendekatkan dengan institusi pendidikan, Glints juga terus merekrut duta besar Glints dari perwakilan mahasiswa.

Sejak September 2016, Glints telah memfasilitasi dan membimbing tiga angkatan dari Ngee Ann Polytechnic dan Singapore Management University untuk magang dengan perusahaan Indonesia yakni Kudo, East Venture Hive, dan Medico.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sdm

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top