Segmen Milenial Indonesia Dibidik Aplikasi Perekrutan Karier Asing

Sejumlah perusahaan pencarian dan perekrutan karier asing berlomba-lomba menggaet segmen milenial Indonesia untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja sejalan dengan maraknya perusahaan rintisan (startup)
Amanda Kusumawardhani | 29 Agustus 2017 15:55 WIB
Ilustrasi. - .olpreneur.com

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah perusahaan pencarian dan perekrutan karier asing berlomba-lomba menggaet segmen milenial Indonesia untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja sejalan dengan maraknya perusahaan rintisan (startup).

Berdasarkan data Glints Intern Pte Ltd & Glints, milenial di kawasan Asia Tenggara berjumlah 180 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan tahunan untuk sarjana baru sebanyak 8,8%. Tak hanya itu, perusahaan itu juga memperkirakan sekitar 19 juta pemuda menganggur di Asia Tenggara sehingga memunculkan peluang ekonomi bagi perusahaan pencarian dan perekrutan karir.

“Indonesia salah satunya, jumlah usia produktif di negara ini sangat besar. Pengguna Glints di Indonesia mencapai 170.000 sedangkan pengguna Glints di negara asalnya, Singapura, hanya 70.000 orang,” kata Looi Qin En, Chief Operating Officer dan Co-Founder Glints di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Hingga akhir tahun ini, dia optimistis jumlah pengguna Glints bisa menyentuh angka 200.000. guna mencapai target itu, korporasi ini aktif menggaet sejumlah universitas antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Trisakti, dan Universitas Bina Nusantara.

Dari 8.000 perusahaan yang sudah bergabung dengan Glints, sekitar 2.000 perusahaan berasal dari Indonesia antara lain Adidas, United Overseas Bank, Grab, Gojek, Kudo, Berrybenka, dan Tokpedia.

Jumlah perusahaan dan pengguna Glints diproyeksikan akan terus bertambah sejalan dengan rencana ekspansi Glints ke beberapa daerah, misalkan Yogyakarta. Selain itu, Qin En juga mengungkapkan daerah lainnya yakni Surabaya dan Medan cukup prospektif untuk menopang rencana bisnis perusahaannya.

Glints sendiri baru didirikan pada akhir 2015 sehingga usianya saat ini belum genap dua tahun. Meskipun demikian, dia cukup optimistis bisnis Glints selama 5-10 tahun ke depan bakal tergenjot signifikan seiring dengan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja di kalangan milenial.

“Mereka ini unik karena pertimbangan pemilihan profesi tidak hanya didasarkan pada gaji, tetapi juga kebutuhan aktualisasi diri dan rencana hidupnya. Banyak yang bilang jika milenial ini tidak loyal alias sering berpindah tempat kerja,” tekannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Glints mulai mendekati kaum milenial sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Berbeda dengan platform lainnya, Glints fokus untuk menjembatani kebutuhan magang para mahasiswa.

“Dengan kesempatan magang itu, mereka akan mengenali kebutuhan dunia kerja. Tak hanya itu, kami juga aktif melakukan seminar dan workshop untuk meningkatkan keloyalan mereka terhadap perusahaan,” tuturnya.

Sebelumnya, Wantedly, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Jepang juga mulai menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Secara internasional, platform ini sudah memiliki klien sebanyak 20.000 dengan user aktif mencapai 1,2 juta.

Selain di Jepang, perusahaan ini tengah memperluas jangkauannya ke Hong Kong, Indonesia, dan Jerman. Khusus untuk Indonesia, Wantedly terus melakukan survei pasar untuk lebih mendalami karakteristik Indonesia.

Karakteristik platform ini tergolong unik dibandingkan platform sejenis karena memanfaatkan kehadiran media sosial. Dalam mengirimkan resume, pengguna Wantedly juga akan terhubung oleh media sosial perusahaan yang dituju, begitu juga dengan perusahaan yang ingin mencari tenaga kerja.

Lius Widjaja, Country Head Indonesia Wantedly, menyebutkan aplikasi Wantedly menghadirkan fitur live chat berupa whatssap khusus bagi pengguna di Indonesia. Yang berbeda dari bursa kerja tradisional, Wantedly lebih mengedepankan komunikasi dua arah antara perusahaan dengan calon karyawannya.

Untuk memperluas jangkauan bisnisnya, Lius mengungkapkan pihaknya memberikan free trial bagi calon perusahaan yang tertarik untuk menggunakan jasa Wantedly dengan sasaran 10 kandidat per pekerjaan yang diunggah di platform digitalnya.

“Kami tidak membatasi jenis perusahaan yang akan menjadi klien Wantedly. Tetapi untuk saat ini, kebanyakan perusahaan yang bergabung memang lebih ke start up teknologi karena memiliki visi dan misi yang sama. Namun, di Jepang, perusahaan sekelas Sony dan Mitsubishi sudah menjadi klien Wantedly,” tekannya.

Tag : StartUp
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top