Ini Alasan Pertamina Batal Akuisisi Dua Lapangan di Rusia

Pertamina membatalkan akuisisi dua lapangan di Rusia yang ditargetkan bisa dibukukan dalam aset perseroan di tahun ini. Berikut alasannya menurut Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman.
Duwi Setiya Ariyanti | 28 Agustus 2017 15:30 WIB
Ilustrasi kilang lepas pantai. - Bloomberg/Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA--PT Pertamina (Persero) membatalkan akuisisi dua lapangan di Rusia yang ditargetkan bisa dibukukan dalam aset perseroan di tahun ini. Berikut alasannya menurut Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman.

Menurutnya, skema kerja sama di Rusia memang tak memungkinkan untuk memiliki aset. Dia menyebut perseroan harus mengakuisisi perusahaan yang memiliki aset tertentu.

Seperti diketahui, sebagai bagian dari kesepakatan bersama dengan Rosneft, perusahaan asal Rusia dalam proyek pembangunan Kilang Tuban, Pertamina berhak melakukan evaluasi terhadap dua lapangan migas milik Rosneft di Rusia.

Berdasarkan keterangan resminya, dalam nota kesepahaman dengan Pertamina, Pertamina bisa menguasai saham partisipasi sebesar 20% di Lapangan The Northern Tip of Chayvo dan hingga 37,5% di Lapangan Russkoye.

Dari kegiatan tersebut, Pertamina menargetkan bisa mendapat minyak 35.000 barel per hari (bph) dan cadangan migas 200 juta barel setara minyak dari Rusia. Untuk itu, Pertamina akan masuk di dua blok migas produksi di Rusia dengan kepemilikan saham di masing-masing blok sekitar 10% hingga 15%.

Sayangnya, ketentuan tersebut membuat perseroan harus menanggung pajak penghasilan (PPh). Sebagai perusahaan tertutup yang akan melakukan akuisisi di luar negeri, dia menyebut perseroan harus menanggung beban PPh.

"Di Rusia itu kan kita enggak bisa memiliki aset. Kalau tidak bisa memiliki aset, kita hanya bisa memiliki saham perusahaannya. Nah kalau perusahaan, PT Indonesia punya kegiatan di luar negeri dan tidak listed, dia akan kena pajak. Itu biasa," ujarnya sebelum Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Senin (28/8/2017).

Lebih lanjut, dia menjelaskan hasil valuasi pihaknya belum bisa untuk mengakuisisi lapangan tersebut. Perhitungan beban pajak ternyata belum bisa membuat pengembangan lapangan sesuai skala ekonomi. Dengan demikian, Pertamina melepas rencana akusisi dua lapangan tersebut. Padahal, pada awal 2017, Pertamina menuntaskan proses akuisisi perusahaan asal Prancis, Maurel et Prom.

"Hasil valuasi kita tidak bisa ..kalau memperhitungkan pajak itu hasil valuasi kita belum memenuhi ekspektasi," katanya.

Kendati terbebani pajak, pihaknya tak menutup kemungkinan rencana akuisisi aset lain di Rusia. Asalkan, menurut Arief, syarat dan ketentuan fiskal cukup menarik sehingga menutup beban-beban yang harus ditanggung dari kegiatan akuisisi.

"Kalau nilainya masuk, ya sebetulnya enggak apa-apa. Penawaran kita kalau begitu ya belum bisa diterima mereka," katanya.

Belum adanya tambahan blok baru yang berproduksi mengakibatkan kenaikan di tahun ini lebih kecil daripada kenaikan di tahun sebelumnya meskipun dari sisi volume lebih besar. Di tahun ini, produksi migas mencapai 692.000 barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day (boepd) atau naik 8,1% dari capaian periode yang sama tahun 2016 yakni 640.000 boepd.

Sementara itu, realisasi produksi migas sepanjang semester I/2016 mencapai 640.000 atau naik 12,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 sebesar 569.000 boepd.

Tag : pertamina, rusia
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top