Pengusaha Logistik Hindari Pinjaman Bank?

Minat berinvestasi pengusaha logistik menggunakan sumber pendanaan dari pinjaman bank semakin menurun. Tingginya beban bunga menjadi penyebab utama.
Abdul Rahman | 23 Agustus 2017 20:13 WIB
Ilustrasi kegiatan logistik - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA - Minat berinvestasi pengusaha logistik menggunakan sumber pendanaan dari pinjaman bank semakin menurun. Tingginya beban bunga menjadi penyebab utama.

Zaroni, konsultan senior Supply Chain Indonesia (SCI) mengatakan, bunga merupakan salah satu komponen terbesar dari biaya modal atau cost of capital. Semakin tinggi tingkat bunga pinjaman, maka semakin besar angsuran.

Untuk investasi kendaraan atau gudang dan infrastruktur logistik lainnya yang sumber pendanaannya berasal dari pinjaman, tingkat bunga kredit yang saat ini relatif tinggi berdampak pada kenaikan angsuran.

"Akibatnya minat untuk investasi dengan sumber pendanaan pinjaman bank tentunya akan memberatkan penyedia jasa logistik," katanya kepada Bisnis, Rabu (23/8/2017).

Untuk menutupi beban angsuran pinjaman diperlukan gross profit atau laba bruto yang cukup besar. Hal ini berarti penyedia jasa logistik harus mencari pendapatan semaksimal mungkin.

Di sisi lain, kondisi tersebut tidak mudah di tengah ketatnya persaingan usaha di industri logistik serta permintaan yang masih lemah.

Selain itu, bunga pinjaman untuk kredit investasi yang tinggi mengharuskan tingkat return yang lebih tinggi, paling tidak di atas bunga pinjaman bank.

Padahal saat ini tingkat return usaha logistik, dalam hal ini pendapatan operasi bersih (net operating income) sebelum dikenai beban bunga kurang dari 10%.

"Sehingga net profit margin-nya praktis habis hanya untuk membayar bunga," imbuhnya.

Kondisi ini, kata Zaroni, tidak menarik bagi pemain logistik utnuk mengambil kredit investasi baik untuk kendaraan maupun gudang serta infrastruktur lainnya. Implikasinya, kredit investasi sektor logistik cenderung stagnan.

Dia menyarankan agar perbankan menurunkan bunga kredit investasi. Dengan demikian para pengusaha atau perusahaan penyedia jasa logistik berani berinvestasi lagi dengan pinjaman bank.

Sebagai informasi, berdasarkan statistik perbankan Indonesia yang dirilis OJK, per Juni 2017 suku bunga rata-rata kredit untuk sektor logistik adalah 10,65%.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top