Harga Garam Merosot, Pemerintah Diminta Segera Tetapkan HPP Baru

Bisnis.com, JAKARTA - Harga garam dilaporkan turun drastis di bawah Rp2.000 per kg mengikuti panen yang terus meningkat. Pada saat yang sama, garam impor masuk ke pasar.
Sri Mas Sari | 21 Agustus 2017 19:27 WIB
Pekerja melakukan proses penggaraman ikan asin di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (25/7). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Harga garam dilaporkan turun drastis di bawah Rp2.000 per kg mengikuti panen yang terus meningkat. Pada saat yang sama, garam impor masuk ke pasar.

Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jawa Timur melaporkan harga garam di tingkat petani di Sumenep mulai Minggu (20/8/2017) turun menjadi Rp1.800 per kg. Padahal hampir dua pekan lalu, posisinya masih berkisar Rp3.200-Rp3.300 per kg.

Ketua HMPG Jatim Muhammad Hasan meminta pemerintah segera menentukan langkah perlindungan agar harga garam tidak jatuh. Proteksi itu dapat dilakukan melalui instrumen harga pokok penjualan (HPP) dan penundaan distribusi garam impor.

"Kami minta pemerintah mengutamakan produksi garam kita [garam rakyat]. Garam impor disimpan dulu. Kita [industri dan PT Garam] mengutamakan penyerapan rakyat dulu," katanya saat dihubungi, Senin (21/8/2017).

HMPG berharap HPP ditetapkan Rp1.500 per kg untuk garam KI untuk memangkas disparitas yang lebar selama ini dengan garam beryodium. Garam beryodium selama inii dijual Rp8.000-Rp10.000 per kg, padahal pengepul dan industri membeli garam krosok kualitas 1 dari petani Rp750 per kg. Bahkan, harga di tingkat petani kerap di bawah level itu alias kurang dari HPP.

Menurut Hasan, HPP baru harus segera ditetapkan sebelum harga garam benar-benar jatuh. Selama lebih dari enam tahun, HPP garam tidak berubah. Berdasarkan Peraturan Dirjen Perdagangan Luar Negeri No 02/Daglu/PER/5/2011, HPP garam K1 di titik pengumpul (collecting point) ditetapkan Rp750 per kg dan garam K2 Rp550 per kg.

HMPG mencatat produksi garam di Jatim hingga 21 Agustus 150.000 ton. Produktivitas dari tambak di Jatim seluas 11.350 ha saat ini berkisar 12-15 ton per ha. Hasan menyebutkan sebagian besar hasil panen berupa garam kualitas 1 (K1) dan kualitas 2 (K2). Cuaca yang cenderung terik sepanjang hari di Jatim membuat petambak melakukan pergaraman 10-12 hari. Sebelumnya, saat cuaca masih tak menentu, petambak melakukan pemanenan saat usianya masih 4-5 hari karena khawatir hujan turun dan merusak garam.

Sekalipun IKM-IKM dan beberapa pabrik besar mulai menyerap garam rakyat, Hasan berpendapat hal itu belum tentu menjamin harga tidak anjlok. Penetapan HPP, kata dia, akan menjaga panen raya garam rakyat yang diperkirakan berlangsung September-Oktober.

"Suplainya semakin banyak, mulai terjadi perimbangan [antara pasokan dan permintaan]. Mekanismenya seperti itu. Kalau tidak disertai bentuk perlindungan, maka yang dirugikan masyarakat," ujar Hasan.

Tag : garam
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top