Perluas Pangsa Pasar Obat, HJ Gandeng Primkop IDI

PT Kalbe Farma lewat PT Hexpham Jaya berupaya meningkatkan pangsa pasar obat, baik paten maupun generik, dengan menggandeng Primkop IDI menggelar HJ Learning Forum.
Choirul Anam | 20 Agustus 2017 20:46 WIB
Group Product Manager Manager PT HJ Bonny M. Anom (kiri) berbincang dengan Ketua Primkop IDI sekaligus Ketua IDI Daeng M. Faqih (tengah) di sela-sela HJ Learning di Malang, Minggu (20/8/2017) - Bisnis.com/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG - PT Kalbe Farma lewat PT Hexpham Jaya (HJ) berupaya meningkatkan pangsa pasar obat, baik paten maupun generik, dengan menggandeng Primer Koperasi (Primkop) Ikatan Dokter Indonesia menggelar HJ Learning Forum.

Group Product Manager PT HJ Bonny M. Anom mengatakan untuk pangsa pasar obat-obat paten, HJ menduduki peringat 11 dan akan mengejar untuk masuk 10 besar.

“Untuk obat generik, kami sudah masuk di peringkat dua dan diharapkan terus meningkat menjadi peringkat pertama,” ujarnya di sela-sela HJ Learning Forum di Malang, Jawa Timur, pada Minggu (20/8/2017).

Lewat kegiaatan seperti HJ Learning, hubungan emosional antara perusahaan dengan dokter bisa lebih kuat, sehingga dapat menggunakan obat yang diproduksi perusahaan tersebut.

Untuk obat generik, menurut dia, kuncinya pada aspek keterjangkauan harga agar dapat memenangi persaingan. Oleh karena itu, agar obat generik yang diproduksi HJ bisa kompetitif, proses produksinya harus efisien.

Di sisi lain, citra produk harus kuat. Karena itulah, obat generik produksi HJ dikemas menarik, sehingga bisa memberi kesan yang kuat pada konsumen. “Tapi, langkah-langkah efisien diperlukan tanpa mengurangi mutu dari produk.”

Dengan adanya kegiatan tersebut, yang bertema Clinic Management Talk, Bonny menuturkan HJ memberi nilai tambah bagi para dokter anggota IDI.

Kegiatan HJ Learning di Malang merupakan kegiatan kali ketiga, yang akan di adakan tujuh kota, yakni Bekasi, Cirebon, Palembang, Padang, Solo, Tangerang, selain Malang.

Ketua Komisi Kebijakan Dewan Jaminan Sosial Indonesia Zaenal Abidin mengatakan pemahaman dan keterampilan dokter dalam mengelola klinik di era BPJS yang pada 2019 ditetapkan semua warga harus terkover sangat penting.

Selama ini, dokter selalu berpikir untuk menjadi pegawai, bukan sebagai wirausahawan. Dengan begitu, mereka seakan enggan mengelola klinik dengan baik.

“Ini harus diubah pola pikirnya. Setiap dokter mestinya berpikir memiliki klinik sendiri, mempunyai usaha sendiri, seperti halnya pengacara dan notaris,” paparnya.

Karena itulah, tambahnya, dokter perlu berpikir sebagai wirausahawan seperti tidak ragu untuk mengajukan kredit ke bank untuk membenahi kliniknya agar pelayanannya bisa lebih baik.

Hasil menangani pasien BPJS Kesehatan, dapat dipakai untuk mengangsur kredit sehingga mestinya bukan suatu yang berat untuk dilakukan dokter.

Menurut dia, kegiatan klinik dengan menangani peserta BPJS akam berjalan baik jika satu dokter menangani 3.000-5.000 anggota BPJS untuk perawatan klinik pratama, klinik rujukan pertama.

Selama ini, kadang ada ketimpangan. Peserta BPJS banyak yang tersedot di Puskemas. “Karena itulah, perlu ada regulasi.”

Dengan ditetapkan kepersertaan 100% pada BPJS, maka potensi dokter mengelola peserta BPJS dalam jumlah besar menjadi lebih terbuka.

Tag : obat, kalbe farma
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top