Peternak Broiler dan Layer Khawatirkan Pasokan Jagung

Peternak broiler dan layer gelisah menghadapi bulan Juli dan Agustus besok. Pasalnya, pada bulan tersebut diprediksi terjadi kelangkaan jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.
Azizah Nur Alfi | 18 Juni 2017 14:09 WIB
Ilustrasi: Petani merontokkan jagung untuk bahan baku pakan ternak di daerah Wanaraja Kabupaten Garut, Jawa Barat. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Peternak broiler dan layer gelisah menghadapi bulan Juli dan Agustus besok. Pasalnya, pada bulan tersebut diprediksi terjadi kelangkaan jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.

Pemerintah diminta menjamin ketersediaan jagung yang sulit diperoleh sejak enam bulan terakhir. Apalagi, Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian mencatat produksi telah surplus, sehingga tidak perlu impor jagung.

Produksi jagung tercatat naik sejak 2014 yakni, 19 juta ton pada 2014, 19,6 juta ton pada 2015, dan 23,1 juta ton pada 2016.

Tahun ini, produksi jagung diproyeksi 30,5 juta ton. Produksi yang meningkat didorong penambahan luas tanam dan peningkatan produktivitas tanaman jagung.

Sementara, total kebutuhan jagung sebesar 16,57 juta ton. Angka ini terdiri dari 8,41 juta ton untuk industri pakan ternak, 3,57 juta ton untuk pakan ternak rakyat/mandiri, dan 4,59 juta ton untuk industri nonpakan.

Produksi jagung yang diklaim surplus, mendorong Menteri Pertanian Amran Sulaiman terus melakukan ekspor jagung. Selain ekspor ke Malaysia sebesar 3 juta ton, ekspor jagung akan dilakukan ke Filipina sebanyak 1 juta ton.

"Ekspor jagung ke Malaysia 3 juta ton, Filipina 1 juta ton. Nilaianya Rp12 triliun. Potensi ini harus dikejar. Kita dorong ekspor," tuturnya usai bertemu Duta Besar Filipina, pekan lalu.

Di sisi lain, Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi Yeka Hendra Fatika menyampaikan di tengah harga telur dan livebird yang jatuh, peternak juga sulit memperoleh jagung lokal untuk pakan ternak mereka.

Yeka menambahkan, apalagi pada Juli nanti akan terjadi kelangkaan jagung. Maka, peternak perlu mendapatkan kepastian pasokan jagung dengan kualitas yang baik dan harga terjangkau.

"Kebutuhan jagung pada broiler dan layer berbeda. Layer butuh jagung curah, sementara broiler butuh pakan jadi," tuturnya saat membuka Audiensi Ketersediaan Jagung bersama asosiasi peternak layer dan broiler dengan Perum Bulog.

Tak hanya peternak, Bulog juga sulit menemukan sumber pasokan jagung karena lokasi yang tersebar dengan infrastruktur belum memadai. Sumber pasokan jagung juga jauh dari sentra ternak. Saat ini, pasokan jagung lokal di gudang Bulog tersisa 100 ton.

Bulog sebenarnya masih memiliki 62.900 ton jagung sisa impor senilai Rp240 miliar, tetapi sudah turun mutu. Sementara, alokasi 24.000 ton Pakan Kita yang diproduksi Bulog, belum sepenuhnya terdistribusi ke peternak broiler.

Direktur Komersial Bulog Febriyanto menyampaikan, dari alokasi 24.000 ton Pakan Kita, hingga kini hanya terjual 400 ton. "Memang agak seret di pakan ini. Ada beberapa kondisi yang harus dihadapi jika langsung dijual ke UKM yakni persoalan keuangan," imbuhnya.

Untuk itu, Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengajak peternak mencari sumber pasokan jagung. Jika peternak terkendala pembiayaan, maka Bulog akan membeli jagung tersebut. Namun, jika sumber pasokan sulit diperoleh, maka peternak harus berkoordinasi dengan kementerian teknis terkait.

Solusi bagi Peternak

Presiden Peternak Layer Nasional Musbar menyebut krisis jagung pada Juli dan Agustus terjadi karena tidak ada penanaman dan panen jagung.

Maka,berdasarkan hasil audiensi dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, PLN saat ini sedang mendata populasi ternak dan kebutuhan pakan di Kabupaten Blitar guna menghadapi krisis tersebut.

Kenapa Kabupaten Blitar? Sebab, produksi ini berkontribusi 40% terhadap produksi nasional. Selain itu, sebanyak 4.321 Kepala Keluarga tersebar di empat kecamatan menggantungkan hidupnya pada peternakan UMKM ini.

Musbar mengakui selama ini peternak kesulitan memperoleh pasokan jagung karena lokasinya tersebar, jauh dari sentra ternak, dan infrastruktur sumber pasokan belum memadai.

"Data terkumpul baru Senin besok. Dari pendataan ini, nanti pemerintah bisa melihat berapa kebutuhan untuk ekspor dan kebutuhan untuk peternakan rakyat," tuturnya, Minggu (18/6/2017).

Peternak juga menunggu informasi dari Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, tentang area tanam jagung yang belum memiliki kemitraan dengan Gabungan Pengusaha Makan Ternak dan Asosiasi Pedagang Padi, Jagung, dan Kedelai.

Musbar mengatakan peternak kini mengandalkan stok jagung di gudang Bulog untuk memenuhi kebutuhan pakan selama Juli.

Stok jagung sebanyak 62.900 ton akan dibagi kepada Jawa Timur sebanyak 30.000 ton, Jawa Tengah sebanyak 15.000 ton, dan 17.900 ton untuk Jawa Barat dan Banten. Peternak kini berkoordinasi untuk pengiriman karena terkait pembatasan operasional truk menjelang lebaran.

"Kalau jagung Bulog sampai habis, maka pihak pemerintah akan meminjam stok feedmill [GPMT]. Itu disampaikan di rapat Kementan kemarin (14/6)," imbuhnya.

Direktur Pakan Kementerian Pertanian Sri Widayati menyampaikan berdasarkan pemeriksaan terhadap jagung sisa impor di gudang Bulog per 19 Mei, masih dalam kondisi baik. Kadar air, protein, dan kadar aflatoksin, masih baik.

"Sebetulnya prediksi habis sampai Maret. Namun, sekarang kondisinya masih baik," imbuhnya.

Tabel Jagung

Keterangan

2014

2015

2016*

Luas Tanam (juta ha)

4,01

4,06

4,90

Luas Panen (juta ha)

3,83

3,78

4,38

Produksi (juta ton)

19

19,6

23,1

Produktivitas(ton/ha)

4,95

5,18

5,29

*Menggunakan ARAM II

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top