Kebijakan Daging dinilai Kontradiktif

Para peternak sapi lokal khawatir atas kebijakan distribusi daging kerbau beku asal India yang mulai memasuki pasar di luar Jabodetabek. Kebijakan ini dinilai kontradiktif dengan program Upsus Siwab yang tengah digencarkan pemerintah.
Azizah Nur Alfi | 11 Mei 2017 18:42 WIB
Pedagang daging sapi. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Para peternak sapi lokal khawatir atas kebijakan distribusi daging kerbau beku asal India yang mulai memasuki pasar di luar Jabodetabek. Kebijakan ini dinilai kontradiktif dengan program Upsus Siwab yang tengah digencarkan pemerintah.

Perwakilan Peternak Sapi Potong Lampung Nanang Purus Subendro menyampaikan kebijakan pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi daging beku Rp80.000 dan distribusi yang mulai masuk ke pasar di luar Jabodetabek, dipastikan akan merusak peternak sapi lokal. Sebab, harga daging segar dari Rumah Potong Hewan lebih dari Rp100.000 per kg tidak mampu bersaing dengan daging beku impor.

"Jelas ini akan merusak. Padahal, peternakan sapi rakyat menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Lampung," tuturnya saat dihubungi Bisnis, beberapa waktu lalu.

Ada sekitar 200 peternak sapi rakyat di Lampung, dengan kepemilikan sapi sedikitnya 10 ekor. Mereka menjual sapi potong ke Padang, Palembang, Pekanbaru, Pangkalpinang.

"Saat ini daging beku belum masuk ke pasar kami, tetapi dengan masuk ke luar Jabodetabek jelas akan merusak peternak rakyat. Jelas ini kontradiktif dengan Upsus Siwab. Peternak mau meningkatkan populasi jika ada keuntungannya," imbuhnya.

Perwakilan Jagal di Jabodetabek Edy Wijayanto menyebut HET daging beku tidak juga menurunkan harga daging di pasar tradisional yang lebih dari Rp100.000 per kg.

"Dengan impor katanya bisa turun, tetapi kenyataannya tidak turun. Harusnya (daging beku) murah, malah naik. Karena daging lokal harganya tinggi, sehingga mudah dioplos," katanya.

Tag : daging sapi
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top