Badan Ekonomi Kreatif Fokus Enam Sektor, Termasuk Kuliner & fesyen

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia akan fokus pada optimalisasi enam sub sektor tahun ini dari 16 sub sektor ekonomi kreatif yang ada di bawah pengembangan lembaga negara itu
Lingga Sukatma Wiangga | 31 Maret 2017 09:13 WIB
Makanan tradisional Indonesia. - .Antara

Bisnis.com, SEMARANG— Badan Ekonomi Kreatif Indonesia akan fokus pada optimalisasi enam sub sektor tahun ini dari 16 sub sektor ekonomi kreatif yang ada di bawah pengembangan lembaga negara itu.

Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia Hassan Abud, mengatakan dari keenam sub sektor yang difokuskan tersebut tiga diantaranya yaitu kriya, kuliner dan fesyen menjadi prioritas dan sisanya, film, aplikasi termasuk pengembangan game serta musik menjadi bidang unggulan.

Adapun 10 sub sektor lainnya adalah arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, animasi video, fotografi, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

“Dari data potensi di setiap daerah di kriya, kuliner dan fesyen hampir setiap daerah ada. Kalau yang prioritas biasanya ada keunikan seperti dangdut jadi musik global orang dengar dangdut, tahu itu dari Indonesia sifatnya lebih unik,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, untuk mengembangkan ekonomi kreatif di seluruh Indonesia pihaknya akan gencar bekerjasama dengan pemerintah daerah. Sehingga pihaknya di pusat dapat mengkolaborasi masing-masing potensi yang ada di daerah.

Untuk itu, pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah dalam memetakan potensi yang masuk ke dalam 16 sub sektor sehingga bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Jika kerjasama dengan pemerintah daerah sudah terjalin, dan pemetaan sudah dilakukan, pihaknya dapat mendorong pengembangan ekonomi kreatif dari mulai proses kreasi, poduksi, distribusi, pemasaran kepada konsumen hingga konservasi.

“Jadi dari hulu sampai hilir kami bantu, kami pun bisa berikan pelatihan, sertifikasi, kemudahan pemodalaan pemasaran baik dalam dan luar neger hingga kalau perlu perlindungan hak kekayaan intelektualnya,” ujarnya.

Di sisi lain, dia mengatakan ada pula kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif ini. Seperti, jika saat sebuah produk dipasarkan dan ternyata permintaannya membesar, produsen masih kesulitan memenuhi karena skala usahanya masih industri rumahan.

Tag : badan ekonomi kreatif
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top