BISNIS START UP: Bersaing Uber SDM Generasi X

Setiap pagi, pikiran Norman Sasono selalu dipenuhi dengan kegalauan mengenai bisnisnya. Bukan soal ekspansi, bahkan bukan soal dukungan finansial dari investor, tetapi lebih kepada kekhawatiran kehilangan sumber daya manusia andal
Amanda Kusumawardhani | 28 Maret 2017 05:33 WIB
Setiap pagi, pikiran Norman Sasono selalu dipenuhi dengan kegalauan mengenai bisnisnya. Bukan soal ekspansi, bahkan bukan soal dukungan finansial dari investor, tetapi lebih kepada kekhawatiran kehilangan sumber daya manusia andal. - .

Bisnis.com, jAKARTA-Setiap pagi, pikiran Norman Sasono selalu dipenuhi dengan kegalauan mengenai bisnisnya. Bukan soal ekspansi, bahkan bukan soal dukungan finansial dari investor, tetapi lebih kepada kekhawatiran kehilangan sumber daya manusia andal.

Bergerak di sektor start up teknologi, performa sumber daya manusia (SDM) menjadi hal krusial untuk menunjang kinerja bisnisnya.

Bisnis start up teknologi memang tengah menghangat di Indonesia belakangan ini. Iklim usaha yang mendukung di Tanah Air memacu pertumbuhan bisnis start up secara kuantitatif sehingga pertarungan sesama pemilik start up untuk mencari SDM tak terelakkan.

Norman Sasono yang saat ini menjabat sebagai Chief Innovation Officer & Co-founder Bizzy.co.id juga menyadari fakta tersebut. Kemampuan secara sistem manajemen hingga finansial yang masih terbatas, membuatnya lebih memilih SDM berpengalaman yang siap bekerja ketimbang lulusan baru.

Sayangnya, tren yang sama juga berlaku pada pelaku start up lainnya yang juga mengejar SDM berpengalaman di tengah keterbatasan yang ada.

Dari sisi lain, pasokan SDM yang kebanyakan bertitel insinyur di Indonesia dengan kualifikasi berkualitas dinilainya terlampu terbatas sehingga nilai secara rupiah pun terus merangkak naik.

“Masalah mendasar di bisnis start up adalah hiring. Perjuangan kami dalam mendapatkan SDM yang berkualitas memang tidak gampang. Turn over SDM di sektor ini sangat tinggi mulai karena gaji dan benefit, lingkungan kerja, sampai hubungan dengan atasan. Saat ini, generasi millennial menjadi target kami,” ucapnya.

Memahami perilaku generasi millennial di bursa kerja memang patut untuk disimak. Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan segmentasi umur berdasarkan tipe generasi yakni pekerja generasi millennial pada 2016 berusia 21 tahun - 34 tahun, generasi X berusia 35 tahun - 51 tahun, dan generasi baby boomers berumur 52 tahun - 70 tahun.

“Mereka terkenal dengan tipe kutu loncat. Soal gaji atau benefit bahkan tidak bisa dibilang sebagai pertimbangan utama, tapi soal iklim kerja, hubungan dengan atasan, bahkan cara berpakaian saat bekerja bisa masuk ke dalam pertimbangan mereka,” tuturnya.

Mengutip Global Career Survey 2013 yang dirilis oleh Recruit Holdings, tren pergantian pekerjaan di Indonesia tergolong paling tinggi di antara negara-negara lainnya di Asia Pasifik yakni 1,64 perubahan, diikuti oleh Malaysia 1,59 kali, dan Thailand 1,54 kali.

Di semua negara, kecuali Jepang, faktor paling penting dalam menentukan pekerjaan yang tepat adalah gaji yang tinggi, dan benefit. Khusus untuk China dan Indonesia adalah alur karir yang jelas merupakan pertimbangan penting, sedangkan untuk India, Malaysia, dan Thailand lebih kepada jam kerja dan masa liburan.

Oleh karena itu, bursa kerja tradisional dinilainya tidak mampu mengakomodasi generasi millennial dalam mencari pekerjaan. Jika dulunya komunikasi yang terbangun ketika perekrutan hanya berjalan satu arah, saat ini hubungan dua arah menjadi pertimbangan utama mereka ketika memilih pekerjaan.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, platform aplikasi digital bernama Wantedly hadir di Indonesia. Peluang gemuknya populasi dan pertumbuhan kalangan kelas menengah membuat perusahaan rintisan dari Jepang ini percaya diri dalam memperluas pasarnya ke Tanah Air.

“Bedanya dengan bursa kerja tradisional, platform kami lebih mengutamakan pendekatan yang berbeda yakni dengan fokus budaya kerja. Tidak lagi mengiming-imingi kandidat dengan gaji yang tinggi dan tunjangan,” tutur Lius Widjaja, Country Head Indonesia Wantedly.

Dengan sentuhan media sosial, Wantedly dipandang mampu menjembatani kebutuhan perusahaan untuk mencari kandidat yang sesuai dengan kebutuhan. Tak hanya itu, platform ini juga dilengkapi beragam fitur misalnya live chat yang memungkinkan calon kandidat untuk bertanya langsung kepada perusahaan tersebut.

Meski tidak membatasi perusahaan yang mendaftar ke platform ini, Lius mengungkapkan platform semacam ini memang lebih cocok ditujukan untuk perusahaan yang memiliki budaya hierarki yang lebih bebas. Untuk saat ini, Wantedly yang sudah berdiri sejak 2015 ini sudah memiliki 600 klien.

“Di Jepang, perusahaan sekelas Sony dan Mitsubishi sudah menjadi klien Wantedly. Untuk Indonesia, kebanyakan memang baru perusahaan start up saja,” tambah Lius.

Wantedly berkantor pusat di Tokyo, Jepang, dan tengah memperluas jangkauannya ke Hong Kong, Indonesia, dan Jerman. Secara internasional, platform ini sudah memiliki klien sebanyak 20.000 dengan user aktif mencapai 1,2 juta.

Tag : start up
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top