Para Ahli Lingkungan Ingatkan Potensi Bencana Alam Akibat Perubahan Iklim

Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association/IESA) mengingatkan mengenai potensi bencana alam akibat perubahan iklim, sehingga pembangunan nasional harus menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Asep Dadan Muhanda | 19 Maret 2017 18:39 WIB
Ilustrasi Climate Change - www.iop.harvard.edu

Bisnis.com, JAKARTA— Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association/IESA) mengingatkan mengenai potensi bencana alam akibat perubahan iklim, sehingga pembangunan nasional harus menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Ketua Bidang Kerjasama dan Komunikasi IESA Mahawan Karuniasa mengatakan bahwa bencana  hidrometeorologis tak bisa lepas dari perubahan iklim yang saat ini terjadi.

 “Ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan nasional,” kata Mahawan yang juga merupakan perwakilan Indonesia di Paris Committee on Capacity-building perubahan iklim di konvensi kerangka kerja PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC) seperti dikutip dalam keterangan tertulis kepada Bisnis.com, Minggu (19/3). 

Dia menyampaikan hal tersebut pada Kongres Pembangunan dan Lingkungan 2017 di Jakarta, Sabtu (18/3/2017). Hadir dalam kesempatan tersebut Staf Khusus Kepala Kantor Staf Presiden Noer Fauzi Rachman dan sejumlah tokoh seperti mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja.

Pada tahun 2012 lalu, Indonesia menghasilkan emisi karbondioksida sebanyak 435,5 metrik ton (MT) atau 4,5% dari total emisi global. Emisi dari sektor energi menyumbang 25% dari catatan emisi Indonesia. Jika emisi karbondioksida dirinci, sebanyak 42,1% berasal dari pembangkit listrik, 21,6% dari industri manufaktur dan konstruksi, 29,5% dari transportasi, dan 6,8% emisi berasal dari perumahan, komersial, layanan publik, pertanian dan kehutanan.

Indonesia sudah mencanangkan komitmen untuk  menurunkan emisi karbondioksida secara sukarela sebesar 26% pada tahun2020 mendatang, dan bisa mencapai 41% dengan bantuan internasional.

Berdasarkan proyeksi Bappenas, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 305,6 juta jiwa pada tahun 2035 mendatang. Adapun berdasarkan perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2009, cadangan minyak mentah Indonesia akan habis dalam kurun 22,9 tahun, gas  habis dalam 58,9 tahun, dan batubara habis dalam 82 tahun.

Sementara itu, menurut kajian UNDP tahun 2014, indeks pembangunan manusia di Indonesia saat ini baru mencapai 0,684 dan berada di rangking 110. Sedikit di atas Filipina yang berada di peringkat  115, namun jauh di bawah Tiongkok yang berada di peringkat 90.

Dalam situasi tersebut, bencana alam di Indonesia justru menunjukan peningkatan. Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana di Indonesia naik dari 143 kejadian pada tahun 2002 menjadi 1.967 kejadian pada tahun 2014. Sekitar 98% dari total kejadian bencana per tahun, adalah bencana hidrometeorologis seperti anjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. Tren bencana ke depan diproyeksi BNPB akan terus meningkat dikarenakan perilaku manusia (antropogenik)

Ketua Umum IESA Tri Edhi Budhi Soesilo mengungkapkan tantangan utama pembangunan nasional saat ini antara lain, terus bertambahnya jumlah penduduk yang mendorong  meningkatnya kebutuhan dan keinginan atas barang dan jasa.

 Di sisi lain, sumber daya alam tidak terbarukan semakin terbatas dan terjadi deplesi (penyusutan) kapital alam. Sementara tingkat pengetahuan dan ketrampilan di Indonesia yang masih rendah.

“Serta pada kenyatannya, teknologi tidak mampu menggantikan sebagian besar fungsi sumber daya alam dan jasa lingkungan,” katanya.

Tag : lingkungan
Editor : Asep Dadan Muhanda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top