Kaltim Berharap Investor Jalan Tol Bontang-Samarinda

Provinsi Kalimantan Timur berharap terdapat investor yang akan membangun jalan bebas hambatan atau tol Samarinda - Bontang.
Yanita Petriella | 20 Desember 2016 19:25 WIB
Proyek jalan tol - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, SAMARINDA - Provinsi Kalimantan Timur berharap terdapat investor yang akan membangun jalan bebas hambatan atau tol Samarinda - Bontang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim M. Taufik Fauzi mengatakan tahap pradesain pembangunan jalan tol Samarinda - Bontang telah selesai disiapkan.

"Untuk DED (detail engineering design) belum, tetapi tahap pra-design sudah disiapkan untuk para investor," ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (20/12/2016).

Pembangunan jalan tol ini akan dimulai dari Samarinda seberang atau menyambung tol Balikpapan -Samarinda menuju Bandara Samarinda Baru dan kota Bontang.

"Untuk biaya investasi pembangunan tol Samarinda Seberang menuju BSB sekitar Rp3 triliunan di luar lahan, untuk sampai ke Bontang membutuhkan biaya Rp15 triliun. Mudah-mudahan investor bisa bangun ini," katanya.

Menurut Taufik, dengan adanya jalan tol Samarinda menuju Bontang ini dapat memangkas jarak tempuh 28 kilometer (Km) dari panjang existing jalan sekarang 122 Km

"Dari tiga jam perjalanan normal menuju Bontang dari Samarinda, nantinya hanya menjadi satu setengah jam saja tentu akan semakin efisien," ucap Taufik. Jalan tol disebut berada di daerah lembah yang jenis tanah lanau dan lempung dengan topografi cenderung datar dan berbukit.

Pembangunan jalan tol terbagi empat seksi sepanjang 94 Km, yang mana sepanjang 16,4 Km proyek tol melintasi hutan lindung Bontang dengan lebar jalan sekitar 100 meter. "Itu yang akan kami proses administrasi izin pinjam pakainya lahan hutan ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup," ujarnya.

Pihaknya meyakini dengan ditetapkannya kota Bontang sebagai kawasan industri dan Samarinda sebagai kawasan perdagangan dan jasa akan menjadi magnet bagi investor untuk bangun proyek tol tersebut.

"Kami tengah menginventarisasi kebutuhan lahan di tiga daerah yang dilintasi tol yakni Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Bontang. Ini dilakukan agar lahan tak bermasalah," katanya.

Pembangunan jalan tol ini selaras dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Nasional, Kalimantan, maupun Provinsi Kaltim. "Ini sudah selaras struktur ruang dalam sistem jaringan tol dari Penajam Paser Utara, Balikpapan, Samarinda, Bontang, Sangatta hingga Maloy. RTRW kabupaten/kota juga sudah sinergi dengan provinsi serta nasional," tutur Taufik.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kaltim Joko Setiono menuturkan pengkajian pembangan tol Samarinda Bontang ini tengah dikaji Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PU dan Perumahan Rakyat.

Saat ini lalu lintas harian rerata (LHR) kendaraan dari Samarinda menuju Bontang sekitar 12.000 kendaraan. Padahal, idealnya sebanyak 17.000 kendaraan.

"Kami akan carikan formulasi yang ideal agar benefit cost ratio (BCR), ukuran perbandingan antara pendapatan dan total biaya produksi memenuhi. Ini dilakukan agar layak ditawarkan kepada pihak ketiga," ucapnya.

BCR ini, lanjutnya, ditinjau dari nilai economic internal rate range (EIRR) dan financial internal rate range (FIRR). Adapun EIRR merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi, sedangkan FIRR merupakan tingkat pengembalian modal.

"Pembangunan jalan tol ini secara ekonomi sudah layak karena FIRR-nya sudah di atas 17% tetapi secara finansial belum karena masih di bawah 10%," tutur Joko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jalan tol, kaltim

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top