Ekspor Menurun, Kopi Olahan Perlu Dipacu

Pemerintah dinilai perlu mendorong ekspor kopi olahan untuk mendongkrak nilai ekspor komoditas tersebut yang selama ini terus merosot, baik secara volume maupun nilai.
Ropesta Sitorus | 20 Desember 2016 04:39 WIB
Ilustrasi seorang pengunjung pameran kuliner tengah menyeruput kopi - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu mendorong ekspor kopi olahan untuk mendongkrak nilai ekspor komoditas tersebut yang belakangan ini terus merosot, baik secara volume maupun nilai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir pada akhir pekan lalu, nilai ekspor kopi, teh dan rempah-rempah pada November 2016 merosot US$23,1 juta (9,96%) menjadi US$208,52 juta dibandingkan dengan Oktober 2016 US$231.60 juta.

Sepanjang periode Januari-November 2016, kinerja ekspor komoditas unggulan ini juga terus merosot menjadi hanya US$1,69 miliar atau anjlok 17,91% dari capaian periode sebelumnya US$2,05 miliar.

Direktur Penelitian Center of Reform of Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai kondisi harus disiasati dengan mulai menggenjot ekspor produk olahan.

Menurutnya, penurunan harga kopi ini tak lepas dari turunnya harga kopi dalam perdagangan internasional, terutama sebulan terakhir.

“Selain itu, kopi yang diekspor sebagian besar masih dalam bentuk biji dan belum diolah sehingga nilai tambahnya rendah. Ekspor dalam bentuk mentah memang semestinya terus dikurangi dan diganti dengan yang olahan,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Dia menyebutkan industri dalam negeri pada dasarnya telah mampu memproduksi kopi olahan. Akan tetapi, sejauh ini mayoritas kopi olahan masih diserap pasar domestik.

Di sisi lain, menurut Faisal, pemerintah juga perlu mendorong pelaku usaha untuk menggenjot produktivitas kopi.

Pasalnya penurunan ekspor ini juga dipengaruhi turunnya jumlah produksi kopi sementara permintaan pasar dalam negeri juga mulai meningkat.“Produktivitas lahan kopi ini juga perlu ditingkatkan,” tuturnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) pernah mengungkapkan lahan untuk kopi Arabica memang terus berkurang sejak 2014, dari330.087 hektar menjadi 326.267 hektar pada 2015 dan diperkirakan hanya berkisar 321.158 hektar pada 2016.

Sedangkan area penanaman kopi robusta memang mengalami penambahan dari 899.808 hektar pada 2014 menjadi 906.963 hektar pada 2015 dan 912.135 hektar pada 2016. Namun, produksi kopi sulit digenjot pada tahun ini lantaran anomali cuaca yang mengganggu musim panen kopi pada September - November.

Secara terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menyatakan penurunan penurunan kinerja kelompok komoditas kopi, teh dan rempah menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ekspor nasional.

“Khusus untuk kopi, ini memang turun karena faktor musim, seperti diketahui, musim hujan berkepanjangan mempengaruhi jumlah panen kopi, sehingga volume ekspornya pun ikut turun,” kata Sasmito.

Data BPS menunjukkkan, volume ekspor kopi, teh dan rempah-rempah pada November 2016 sebesar 69,77 ribu ton, turun 13,68% dari kinerja ekspor pada Oktober yang mencapai 80,82 ribu ton.

Secara kumulatif, total ekspor golongan komoditas tersebut Januari - November 2016 mencapai 569.080 ton, turun 19,96% dari periode yang sama tahun lalu 708.650 ton.

Selain golongan kopi, teh dan rempah-rempah, empat kelompok komoditas utama yang mengalami penurunan terbesar dalam kinerja ekspor November yakni besi dan baja (turun US$67,8 juta); kapal laut (US$63,3 juta); mesin dan peralatan listrik (US$48 juta); serta timah (US$47,2 juta).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top