PELUANG USAHA: Specialty Coffee Jadi Potensi Pengembangan di Indonesia

Kementerian Perdagangan menilai specialty coffee (kopi khusus) menjadi potensi terbesar bagi pengembangan kopi Indonesia. Adapun, tren perdagangan kopi dunia pada saat ini cenderung ke specialty coffee.
Febriany Dian Aritya Putri | 02 November 2016 18:39 WIB
Ilustrasi Kopi - smokeybarn.co.uk

Bisnis.com, MEDAN - Kementerian Perdagangan menilai specialty coffee (kopi khusus) menjadi potensi terbesar bagi pengembangan kopi Indonesia. Adapun, tren perdagangan kopi dunia pada saat ini cenderung ke specialty coffee.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini menuturkan saat ini permintaan terhadap specialty coffee terus meningkat. Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Pembelian specialty coffee sedang bergelora. Arahnya memang ke sana. Secara volume memang masih sdikit, dan nilainya justru lebih tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, peralihan konsumsi dari non-specialty ke specialty coffee dalam 5 tahun terakhir sudah mencapai 40%. Ini peluang” papar Made, di sela-sela Temu Kopi Sumatra, Rabu (2/11/2016).

Indonesia, lanjutnya, merupakan negara produsen kopi terbesar keempat di dunia. Total produksi mencapai 691.000 ton per tahun. Di atas Indonesia, ada Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Saat ini, terang Made jumlah produksi kopi dunia terus menurun, sementara permintaan semakin banyak.

“Kita harus terus mencari dan update specialty coffee baru. Kami punya pilot project di Pegunungan Tengah, Papua. Selama ini yang terkenal kan kopi dari Wamena. Nah, kami coba fasilitasi kopi hutan di Pegunungan Tengah, sehingga bisa dijual,” tambah Made.

Dia juga mencontohkan saat ini specialty coffee yang tengah diburu yakni dari Sudan Selatan. Indonesia sendiri memiliki potensi ratusan jenis yang bisa menjadi specialty coffee. Saat ini Indonesia baru memiliki 14 kopi yang sudah tersertifikasi Geographical Indications (GI).

Kendati memiliki banyak potensi sepcialty coffee, para produsen kopi juga diminta terus menjaga mutu. Pasalnya, selama ini meski specialty coffee asal Indonesia banyak dikenal di mancanegara, konsistensi mutu belum sepenuhnya terpenuhi.

Tak hanya itu, persoalan perubahan iklim, ketimpangan kesejahteraan petani, dan strategi promosi juga masih menjadi kendala. Made mengemukakan, saat ini pemerintah mendukung pengembangan bibit kopi yang lebih adatif terhadap perubahan iklim.

Terkait dengan kesejahteraan petani, pemerintah juga terus mencari ekulibrium harga di tingkat konsumen dan petani.

“Untuk promosi, kami punya dua strategi yakni pengembangan story line atau kisah di balik kopi tersebut dan pembuatan tur kopi ke perkebunan. Konsumen kopi masa kini lebih suka jika tahu latar belakang kopi yang dia minum. Petaninya siapa, kehidupannya bagaimana. Ini bisa menaikkan value kopi.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top