UKM Masuk Bursa, Hipmi Jaya dan BEI Gelar Go Public Gathering

Sulitnya akses usaha kecil dan menengah (UKM) terhadap kredit perbankan telah melahirkan ide agar UKM mencari sumber pendanaan usaha yang lain.Mekanisme melepas saham di bursa dianggap lebih murah dan menguntungkan bagi UKM dibandingkan dengan harus mengikuti aturan kredit perbankan yang ketat dan berbunga tinggi.
Bambang Supriyanto | 22 Maret 2016 16:19 WIB
Pengurus Hipmi Jaya membuka sesi perdagangan bursa di BEI, Senin (21 - 3)

Bisnis.com, JAKARTA - Sulitnya akses usaha kecil dan menengah (UKM) terhadap kredit perbankan telah melahirkan ide agar UKM mencari sumber pendanaan usaha yang lain.

Mekanisme melepas saham di bursa dianggap lebih murah dan menguntungkan bagi UKM dibandingkan dengan harus mengikuti aturan kredit perbankan yang ketat dan berbunga tinggi.

"Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya yang mayoritas anggotanya adalah UKM akan membantu Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengajak anggotanya untuk melepas saham ke publik di pasar modal domestik," Tri Antono Muliawan, Ketua bidang Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Hipmi Jaya.

Dalam kaitan itu, Hipmi Jaya diberikan kesempatan untuk membuka sesi perdagangan BEI, yang dilanjutkan dengan acara Go Public Gathering, Senin (21/3).

Dia menjelaskan, anggota Hipmi Jaya yang berjumlah 3.000 anggota mayoritas adalah UKM. "Namun, tidak sedikit perusahaan yang bergabung di Hipmi Jaya sudah menjadi perusahaan besar," ungkap Muli.

Dia mengatakan, berbeda dengan bank yang mengenakan bunga cukup tinggi di segmen UKM, penerbitan saham memang merupakan alternatif untuk mendapatkan modal usaha tanpa bunga, dan dana yang bisa diperoleh pun cukup besar.

Namun, itu semua akan disertai banyak konsekuensi yang harus dipenuhi pengusaha, bahkan sebelum rencana listing itu bisa terlaksana.

Ketua Kompartemen Pasar Modal dan Investasi Hipmi Jaya Constantine Wuisan mengatakan, acara Go Public Gathering ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang telah dilakukan oleh Hipmi Jaya dan Bursa Efek Indonesia.

"Sosialisasi dan edukasi penting untuk terus dilakukan oleh otoritas bursa bersama pelaku industri untuk mengembangkan pasar modal domestik," ungkapnya.

Menurutnya, Hipmi Jaya siap untuk menjadi mitra strategis dalam melakukan sosialisasi tersebut. Hal itu karena kerja sama Hipmi Jaya dengan BEI (d/h Bursa Efek Jakarta) telah terjalin sejak lama mulai 2000.

"Ini merupakan salah satu sumbangsih dari pengusaha muda yang tergabung dalam Hipmi untuk kemajuan bangsa dalam bidang ekonomi," ujar Constantine Wuisan, pendiri sekaligus pemilik Walnut Capital.

Constantine menambahkan cukup banyak keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan jika melakukan pencatatan saham di BEI, seperti pendapatan dana untuk melakukan ekspansi.

"Kami juga mengharapkan jumlah investor juga dapat bertambah, sampai saat ini dari 250 juta total populasi masyarakat Indonesia, yang menjadi investor baru sekitar 0,4 kali saja."

Selain itu, diharapkan juga emiten di Bursa Efek Indonesia dapat melampaui bursa di kawasan Asia Tenggara.

Jumlah emiten di pasar modal Indonesia pun baru sebanyak 464 emiten, atau masih di bawah bursa Malaysia yang sudah mencapai 900 emiten.

"Oleh karena itu, Hipmi Jaya mendorong kepada BEI dan OJK untuk segera menerbitkan regulasi yang memudahkan UKM untuk masuk bursa sehingga investor baru terus bertambah," ujar Constantine.
 
Ada banyak tantangan yang meskipun dijawab sebelum pengusaha UKM bisa menikmati dana berlimpah dari investor di pasar modal.

BEI sebenarnya telah memberi peluang untuk usaha menengah dengan menyediakan papan pembangunan bagi perusahaan beraset Rp5 miliar-Rp30 miliar, tetapi tampaknya belum banyak yang memanfaatkannya.

Sebagian besar UKM kita bukan berbentuk perseroan terbatas (PT) seperti ketentuan Bapepam- LK, melainkan berupa perseorangan, firma, atau persekutuan komanditer (CV).

Pada umumnya laporan keuangan yang dikeluarkan UKM adalah laporan keuangan in-house, bukan audited oleh auditor independen seperti yang diatur bursa. Biaya yang dibutuhkan untuk dapat listing di bursa juga tidaklah kecil.

Berbagai jenis biaya seperti listing fee dan underwriting fee harus dihitung masak-masak. Momentum adalah hal penting dalam melepas saham di bursa agar dana yang dihimpun bisa maksimal, sedangkan kebutuhan modal bagi pengusaha tak hampir mengenal momentum alias datang setiap saat dan tak dapat menunggu lama.

Proses untuk mempersiapkan go public membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit dan ini mesti menjadi perhatian penting.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hipmi

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top