JARGAS RUMAH TANGGA: Mengikis Ironi di Lumbung Energi

Beberapa daerah seperti Prabumulih, Balikpapan, dan Sidoarjo terkenal sebagai lumbung gas. Ironisnya, manfaat yang diperoleh masyarakat masih tergolong rendah.
Duwi Setiya Ariyanti | 02 Maret 2016 19:41 WIB
Api kompor gas. - youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa daerah seperti Prabumulih, Balikpapan, dan Sidoarjo terkenal sebagai lumbung gas. Ironisnya, manfaat yang diperoleh masyarakat masih tergolong rendah.

Bahkan, daerah yang lokasinya paling dekat dengan lapangan gas justru didera krisis energi. Produksi gas lebih banyak dibawa ke luar negeri dan digunakan sebagai mesin uang dan menyumbang penerimaan negara di sektor energi.

Berdasarkan data sepanjang tahun lalu, volume gas dalam kontrak berjalan tercatat 7.733,67 billion british thermal unit per day (BBTUD) dan volume yang terserap hanya 87,2% atau 6.746,9 BBTUD.

Dari angka tersebut, pemanfaatan gas di sektor transportasi dan rumah tangga justru menjadi urutan paling buncit. Kontrak berjalan untuk bahan bakar gas transportasi yang mencapai 8,7 BBTUD hanya terserap 4,37 BBTUD. Sedangkan, untuk jaringan gas kota hanya terserap 2,08 BBTUD dari kontrak berjalan sebesar 3,51 BBTUD.

Sementara itu, pemanfaatan tertinggi baru ada di gas cair (liquefied natural gas/LNG) yang diekspor hingga 2.147,2 BBTUD. Berturut-turut, untuk industri terserap 1.263,17 BBTUD, listrik terserap 939,11 BBTUD, ekspor gas pipa 873,47 BBTUD, pupuk terserap 737,46 BBTUD, LNG kebutuhan domestik 298,48 BBTUD, lifting minyak terserap 270,28 BBTUD dan LPG domestik sebanyak 211,28 BBTUD.

Gap yang besar terkait dengan pemanfaatan gas ini disebabkan minimnya infrastruktur gas. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat di lumbung energi tak bisa tersentuh energi murah.

Ngatupah, salah seorang warga yang tinggal dan lahir di Sidoarjo mengaku baru menikmati akses gas berharga miring pada dua tahun terakhir. Perempuan berusia 54 tahun itu tak tahu lagi berapa harga eceran gas melon yang beredar.

Untungnya, gas melalui pipa kini tersambung ke tempat tinggalnya. Alhasil, dia tak perlu repot membawa tabung atau meminta tolong kepada orang lain untuk memasang tabung ke regulator karena takut bila tiba-tiba meledak.

Kendati beberapa ruang di rumahnya harus dilewati pipa, dia tak khawatir karena gas jenis ini dinilai lebih aman dan praktis. Untuk pemasangan pipanya, dia hanya perlu mendaftar ke Ketua Rukun Warga. Setelah diproses, gas bisa dinikmati tanpa biaya pemasangan pipa, berbeda dengan pemasangan pipa air minum.

"Sekarang ada pipanya yang salurkan gas jadi enggak perlu ke warung kalau lagi masak gasnya habis," katanya.

Dari segi harga, katanya, paling tidak dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp100.000 per bulan karena gas melon sudah habis kurang dari sebulan pemakaian. Kekhawatiran soal biaya dan aliran gas yang tiba-tiba terhenti bisa ditekan setelah menggunakan gas pipa.

Ngatupah hanya mengeluarkan biaya Rp71.000 per bulan. Padahal pemakaiannya tergolong tinggi karena selain memasak, Ngatupah juga sering menggunakannya untuk memasak air untuk mandi.

"Selain untuk masak, saya juga sering pakai untuk mandi air hangat tapi sebulan hanya Rp71.000," katanya.

JARINGAN GAS

Manajer Stakeholders Relation Pertagas Niaga Ratna Dumila mengatakan, sejak November 2015, pihaknya mengelola sekitar 6.500 Sambungan Rumah Tangga (SR) yang dibangun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kelurahan Ngingas, Wedoro, Tambak Sawah, dan Medaeng. Sebelumnya, sambungan jaringan gas kota tersebut dikelola oleh PT Petrogas Jatim Utama, Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Jawa Timur yang telah habis masa kontraknya.

Rencananya, pada April 2016, gas akan dialirkan lagi ke 3.850 SR yang berada di wilayah Kedung Banteng, Kali Dawir, Gempol Sari, Kedung Turi, Kali Tengah, Kludan, Ngaban, dan Desa Putat. Jargas di Kabupaten Sidoarjo sendiri memperoleh alokasi gas dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Lapindo Brantas, dengan pasokan 0,2 MMscfd selama lima tahun.

Selanjutnya, dalam Kepmen ESDM Nomor 4822K/12/MEM/2015, Prabumulih dan Balikpapan menjadi target berikutnya dengan jumlah total sekitar 36.000 SR. Jika pengoperasian gas kota ini telah berjalan semua maka jumlah pelanggan jargas Pertamina ditargetkan akan mencapai 98.000 SR pada 2018.

"Kalau semua berjalan, terdapat 98.000 SR yang terhubung melalui jargas di 2018," katanya.

Business Unit Head Gas Products PGN, Wahyudi Anas, mengatakan terdapat lima kelurahan yang dapat menikmati pasokan gas melalui pipa. Kelurahan tersebut mencakup Kelurahan Malawili, Malawele, Mariat Pantai, Klabinain, dan Aimas. Secara bertahap, 3.898 sambungan rumah disalurkan.

"Secara bertahap sebanyak 3.898 rumah akan mendapatkan pasokan gas bumi dari PGN," ujarnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengakui selama ini laju perkembangan infrastruktur penyaluran gas sangat lambat.

Selama ini, katanya, pihaknya belum menerima respons pihak swasta untuk turut terlibat membangun infrastruktur. Pasalnya, dia menganggap pihak swasta tak tertarik dengan investasi di bidang pengembangan jaringan gas kota karena dianggap sebatas program tanggung jawab sosial yang tak bisa mendatangkan keuntungan.

"Infrastruktur penyaluran gas berjalan lambat sekali dan sayang sekali untuk listrik, rumah tangga, industri, transportasi masih rendah penggunaannya."

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (2/3/2016)

Tag : energi, gas
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top