Banyak Pernyataan Soal Harga BBM Cenderung Menyesatkan

Anggota Komisi VII DPR Inas Nasrullah menyesalkan banyaknya pengamat yang membuat pernyataan menyesatkan dan cenderung memprovokasi masyarakat. Apalagi, jika tidak didasarkan atas fakta dan data yang akurat.
Martin Sihombing | 02 Maret 2016 16:03 WIB
Harga BBM Turun Pengendara motor antre untuk mengisi BBM di SPBU Coco Cikini, Jakarta Pusat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -  Anggota Komisi VII DPR Inas Nasrullah menyesalkan  banyaknya pengamat yang membuat pernyataan menyesatkan dan  cenderung memprovokasi masyarakat. Apalagi, jika tidak  didasarkan atas fakta dan data yang akurat.

Salah satunya, pernyataan kontroversial Direktur Eksekutif  Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin.  Safrudin mengatakan, pemerintah selama ini memanipuasi harga  BBM. Harusnya, lanjut Safrudin, harga Premium Ron 88 menjadi Rp3.800 per liter dan Solar 48 menjadi Rp3.650 per liter.

Harga tersebut mengacu pada harga di bursa minyak Singapura,  yakni bensin Ron 95 hanya Rp5.000-5.500 per liter dan Solar  51 dengan sulfur max 50 ppm hanya Rp4.500-5.000 per liter.

Menurut Inas, pernyataan tersebut sangat mengada-ada dan  provokatif. Karena faktanya, harga BBM di Singapura justru  jauh lebih mahal ketimbang di Indonesia.  “Dari mana  data tersebut? Pernyataan itu sangat berbahaya dan  menyesatkan masyarakat!” kata Inas.

 Menurut Inas, selain tidak didukung data akurat, tudingan  tersebut juga sangat bertentangan dengan fakta yang ada.  Kondisi yang sebenarnya, lanjut Inas, harga RON 95 di  Singapura Jumat, 26 Februari 2016, adalah Sin$1,98 per  liter. Dengan kurs dolar Singapura sebesar Rp9. 585, maka  harga BBM jenis RON 95 di negara tersebut adalah Rp18.978
 per liter.

“Saya baru saja memantau harga tersebut. Jadi  dapat data dari mana dia? Jadi pengamat jangan asal ngomong.  Memalukan bangsa ini. Biasakan elegan, mengkritisi dengan  data dan fakta yang benar. Bukan membuat opini dengan tujuan  membuat kegaduhan,” kata Inas.

Terkait harga solar di Singapura, menurut Inas juga tidak  akurat. Karena solar di Singapura justru lebih mahal  daripada RON 95, yakni  sekitar Sin$2. Selain itu, terkait maksimal kandungan sulfur juga tidak tepat. Bukan 50  ppm, namun di Singapura maksimal 10 ppm. Batasan konsentrasi  sulphur content tersebut jauh lebih rendah dibandingkan di  Indonesia, yakni 3.500 ppm.

 Inas menduga, pernyataan tersebut sengaja dibuat untuk  membuat gaduh. Dan tujuannya jelas, untuk menjatuhkan  pemerintahan saat ini. “ Kita ini sedang membangun. " Tolonglah memberi masukan yang konstruktif, berikan data  yang valid. Bukan malah menjadikan suasana keruh,”
 lanjutnya.

 Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand  Hutahaean juga menyesalkan pernyataan, yang membandingkan  harga BBM di Indonesia dan Singapura. Alasannya, lanjut  Ferdinand, karena faktor penentu harga BBM, termasuk masalah  berbagai pungutan, juga berbeda di kedua negara tersebut.

“Kawan kita itu terlalu emosional. Saya tidak sependapat,  terlebih dengan menyebut adanya manipulasi harga. Karena  konotasi manipulasi berarti terdapat unsur pidana,” lanjut  Ferdinand.

 Di sisi lain, Ferdinand juga mengingatkan, bahwa dengan  harga minyak dunia sebesar $28-30 per barel, sektor hulu  Pertamina sebenarnya mengalami kerugian. Kerugian itu bisa  diprediksi, karena rata-rata cost production yang  dikeluarkan Pertamina adalah $30 per barel. Bahkan di
offshore, ada yang mencapai $40 per barel. “Nah, jika harga jualnya saja sama atau di bawah cost production, bisa  dipastikan bahwa tahun ini Pertamina akan mengalami  kerugian,” papar dia.

 Itu sebabnya Ferdinand bisa memahami, jika pemerintah tidak  terburu-buru menurunkan harga BBM. Sebab keuntungan di  sektor hilir tersebut, bisa dipergunakan untuk menutupi  kerugian di sektor hulu. Subsidi silang itu penting, agar  kinerja Pertamina tidak malah terganggu.

"Bisa dibayangkan,  jika kinerja Pertamina terganggu dan tidak bisa mendistribusikan BBM. Selama tiga hari saja tidak ada BBM," kata Ferdinand, negara kita akan kacau.

Tag : Harga BBM
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top