9.521 Orang Desak Selamatkan 90 Ekor Pesut Mahakam

Sedikitnya 9.521 pendukung petisi daring Change.org mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelamatkan Pesut Mahakam yang diproyeksi hanya tinggal kurang dari 90 ekor
Anugerah Perkasa | 02 Maret 2016 09:19 WIB
Batu bara - JIBI/Paulus Tandi Bone
Bisnis.com, JAKARTA -- Sedikitnya 9.521 pendukung petisi daring Change.org mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelamatkan Pesut Mahakam yang diproyeksi hanya tinggal kurang dari 90 ekor.
 
Petisi yang digagas Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia  (Rasi) itu menyatakan studi yang dilakukanya pihaknya menunjukkan populasi Pesut Mahakam hanya kurang dari 90 ekor saat ini. Hal itu terkait dengan adanya operasi pertambangan batu bara dan pengangkutannya melalui Sungai Kedang Kepala, sungai yang menjadi habitat pesut tersebut.
 
"Ponton [kapal tongkang] mengeluarkan suara kebisingan yang melebihi 80 desibel dan sangat mengganggu pesut, maka pesut lebih memilih untuk menghindar dan tidak masuk anak sungai tersebut," demikian petisi yang dikutip Bisnis.com, Rabu (2/3).
 
Suara bising tersebut, demikian Yayasan Rasi,  dapat menghalau pantulan sonar pesut sehingga membuatnya sulit berorientasi sehingga dapat berkibat ditabrak ponton.  Apalagi untuk mencari makan, sudah tidak dapat dilakukan lagi.  
 
Yayasan itu mengkritisi adanya pemberian izin bertahap terhadap perusahaan batu bara menjadi 20 juta matrik ton, yakni 4 juta ton, 8 juta ton dan 15 juta ton. Organisasi itu memaparkan walaupun harga komoditas batu bara anjlok, perusahaan tetap dapat menjualnya ke pasar domestik.
 
"Apakah kerakusan akan membuat Pesut Mahakam punah?  Setelah batubara habis, apa yang tersisa bagi generasi penerus?  Kalimantan menjadi tidak lebih baik dari permukaan bulan, banyak lubang, gersang, dan akhirnya menjadi gurun pasir," katanya.
 
Selain, mempetisi KLHK, organisasi itu juga mendesak Menteri Kelautan dan Perikanan serta Gubernur Kalimatan Timur untuk menghentikan kepunahan tersebut.
 
Tag : paus
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top