Pasir Langka, Ongkos Konstruksi di Jawa Timur Meningkat

Pelaku bisnis konstrusi di Provinsi Jawa Timur menghadapi peningkatan biaya produksi lantaran seret suplai pasir dari Lumajang.
Dini Hariyanti | 10 Januari 2016 20:40 WIB
Tambang pasir.

Bisnis.com, SURABAYA—Pelaku bisnis konstrusi di Provinsi Jawa Timur menghadapi peningkatan biaya produksi lantaran seret suplai pasir dari Lumajang.

Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Jawa timur Muhammad Amin mengatakan yang paling disayangkan dari tersendatnya suplai pasir Lumajang adalah kualitas turunnya kualitas bahan bangunan.

Guna mencapai kualitas yang sama dengan pasir Lumajang, kontraktor harus memodifikasi bahan bangunan sehingga ongkos produksi lebih mahal.

“Biaya produksi memang naik tidak seberapa, paling banyak 2%. Tapi kualitas yang baguslah yang sulit didapatkan,” katanya di sela jumpa pers sosialisasi Musyawarah Daerah Gapensi, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (10/1/2015).

Kelangkaan pasir bahan beton asal Lumajang di Jawa Timur berlangsung sejak tahun lalu. Kondisi ini membuat berbagai proyek infrastruktur terhambat. Guna menjalankan pembangunan sesuai  hitam di atas putih, kontraktor putar otak mengakalinya agar bahan bangunan tetap berkualitas.

Seret pasir dari Lumajang terjadi pascamoratorium penambangan pasir di sana. Hal ini diberlakukan menyusul terjadinya kisruh tambang pasir. Selain merepotkan kontraktor karena biaya produksi meningkat, kondisi ini juga menyusahkan lantaran memicu kenaikan harga pasir dari daerah lain.

Amin menyatakan secara kuantitas Lumajang bukan pemasok dominan kebutuhan pasir. Porsi suplai dari daerah ini sekitar 30% - 40% permintaan pasir di Tanah Air. Tapi kualitas yang dihasilkan dinilai sebagai yang terbaik dibandingkan dengan daerah lain.

Gapensi Jatim tidak menyebutkan secara pasti volume pasir yang disuplai dari Lumajang. Tapi diperkirakan setiap desa menyuplai 300 truk setiap hari. Selama ini harga pasir Lumajang relatif lebih mahal, saat Kediri Rp100.000 per meter kubik di Lumajang Rp125.000 per meter kubik.

“Untuk buat beton guna menghasilkan yang berkualitas kami jadi harus tambah semen. Sekarang kami banyak ambil dari Kediri atau Bojonegoro, kualitasnya cukup beda jauh,” ujar Amin.

Sejalan dengan kelangkaan yang terjadi, peran pemerintah daerah sejauh ini membantu kontraktor menemukan formula yang tepat. Formula yang dipakai harus bisa menghasilkan beton dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, untuk menghasilkan beton K300 maka formula campuran bahannya 1:2:3. Maksudnya, satu semen berbanding dua pasir berbanding lagi dengan tiga kerikil. Lantaran kualitas pasir turun maka formula ini berubah, dan pemda membantu menemukan desain pencampuran yang tepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konstruksi, pasir

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top