Awas, Kotoran Burung Picu Infeksi Jamur

Pernahkah Anda mendengar tentang kriptokokokis? Kriptokokokis merupakan infeksi jamur serius yang disebabkan oleh jamur cryptococcus. Cryptococcus ini hidup di alam dan terutama ditemukan di tanah dengan kotoran burung.
Tisyrin Naufalty Tsani | 02 Agustus 2015 07:06 WIB
Dalam satu episode infeksi, seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu serotipe dan genotipe. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pernahkah Anda mendengar tentang kriptokokokis? Kriptokokokis merupakan infeksi jamur serius yang disebabkan oleh jamur cryptococcus. Cryptococcus ini hidup di alam dan terutama ditemukan di tanah dengan kotoran burung.

Dengan kondisi sistem imun yang terganggu, jamur ini dapat dengan mudah menyusup ke dalam tubuh manusia. Jika jamur ini masuk ke dalam aliran darah, mereka dapat menyerang organ internal, bahkan bisa menyebabkan peradangan selaput otak.

Penggunaan obat antijamur merupakan langkah pertama untuk menghentikan jamur tumbuh lebih lanjut. Namun, sejauh ini kerap terjadi kegagalan dalam menggunakan obat antijamur pada kriptokokokis.

Untuk meraih gelar doktor ilmu biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Robiatul Adawiyah melakukan penelitian tentang jamur ini dengan disertasi berjudul Keragaman Karakteristik Molekular, Faktor Virulensi dan Hubungan Genotipe Isolat Cryptococcus dengan Kepekaan Terhadap Obat Antijamur.

Staf Pengajar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengungkapkan bahwa di Indonesia, jamur penyebab kriptokokokis baru ditemukan satu spesies saja, tetapi terdiri dari empat serotipe dan empat genotipe dengan kepekaan berbeda-beda terhadap beberapa jenis obat antijamur.

Penelitian membuktikan bahwa dalam satu episode infeksi, seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu serotipe dan genotipe. Hal ini berpengaruh terhadap kegagalan hasil pengobatan.

Mengapa? Karena obat A dapat berpengaruh positif terhadap serotipe tertentu, tetapi kurang peka terhadap serotipe lainnya. Penelitian ini berguna untuk memperbaiki tatalaksana kriptokokokis ke depannya.

Pada dasarnya, jamur cryptococcus akan mengakibatkan masalah pada tubuh manusia yang sistem imunnya terganggu. Mereka yang sistem imunnya terganggu di antaranya penderita AIDS, penerima transplantasi organ padat, orang yang mengalami keganasan hematologi, kegagalan fungsi organ, dan lainnya. Kriptokokosis di Indonesia meningkat tajam seiring dengan peningkatan kasus AIDS.

Mortalitas kriptokokosis pada AIDS tinggi yaitu 40%.Jamur ini dapat menginfeksi susunan saraf pusat, kulit, paru, mata, saluran kemih, otot, jantung, saluran cerna, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, dan leher.

Gejala yang kerap ditemui pada orang yang terinfeksi jamur ini adalah kelainan otak, yakni lupa akan sesuatu yang penting seperti lupa akan namanya sendiri dan lupa akan rumahnya.

Ada pula gejala sakit kepala, demam, kebingungan, mual muntah, kejang, penglihatan kabur, mengantuk hingga gangguan kesadaran. Jika paru-paru terkena, penderita mungkin mengalami gejala seperti letih lesu, batuk kering, demam, dan nyeri dada.

PENCEGAHAN

Robiatul Adawiyah menjelaskan jamur cryptococcus terutama dapat ditemukan pada kotoran burung merpati. Agar terhindar dari serangan jamur ini, penting untuk selalu menjaga sistem imun pada tubuh serta menjaga gaya hidup sehat.

“Seperti HIV/AIDS kan bisa dihindari, begitu juga dengan infeksi jamur ini,” katanya. Menurutnya, jika cryptococcus masuk ke dalam tubuh seseorang yang memiliki kekebalan tubuh prima, tidak akan mengakibatkan masalah apapun.

Namun demikian, diagnosis dan pengobatan yang cepat dan tepat akan membantu mencegah jamur itu merusak organ internal di dalam tubuh.

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (2/8/2015)

Tag : burung, jamur
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top