PHK: Perusahaan Kelas Menengah Paling Rentan

Perusahaan kelas menengah ke bawah dinilai paling rawan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) seiring melemahnya kondisi ekonomi di Tanah Air.
Tegar Arief | 02 Agustus 2015 20:41 WIB
Ilustrasi: Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu. - Bisnis.com/WD

Bisnis.com, JAKARTA -- Perusahaan kelas menengah ke bawah dinilai paling rawan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) seiring melemahnya kondisi ekonomi di Tanah Air.

"Perusahaan ini yang rawan, karena ini jumlahnya besar dan tersebar di wilayah," kata Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sanny Iskandar kepada Bisnis.com, Minggu (2/8/2015).

Menurutnya, perlindungan untuk perusahaan kelas ini harus dimaksimalkan oleh pemerintah. Sebab mayoritas tenaga kerja terserap di industri kelas ini.

Adapun untuk perusahaan besar, kendati terkena imbas dari melemahnya ekonomi mereka masih bisa bersiasat, yakni dengan mengurangi produksi atau melakukan kombinasi teknologi.

"Perusahaan besar bisa mengalihkan teknologi, atau kombinasi teknologi. Tapi kalau yang betul-betul mengandalkan labour itu dikhawatirkan memang," ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pekerja yang terkena PHK terus membeludak.

Pada Mei lalu, sebanyak 40.000 pekerja di sektor industri sepatu telah diberhentikan, dan sebanyak 6.300 pekerja di sektor tekstil mengalami hal yang sama.

Terakhir, pada Juli lalu Kementerian Ketenagakerjaan menerima laporan bahwa sebanyak 11.730 pekerja di enam daerah akan bernasib sama.

Apindo sendiri memprediksi sebanyak 65.000 pekerja dikenai PHK selama tahun ini. Angka tersebut masih belum termasuk jumlah pekerja yang mengalami rotasi atau pemangkasan jam kerja sebagai langkah efisiensi perusahaan dalam menekan ongkos produksi.

Tag : phk
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top