Indonesia, Surga Bisnis Online?

Bisnis e-commerce seperti menemukan tempat persemaian yang tepat di Indonesia. Semua syarat untuk perkembangan bisnis berbasis Internet terpenuhi, mulai dari pasar berupa jumlah penduduk hingga dukungan jaringan Internet berkat masifnya penetrasi ponsel pintar.
Thomas Mola | 17 Maret 2015 21:30 WIB
Salah satu kunci menarik investor ialah pangsa pasar dan kualitas produk. Produk bagus tanpa pasar sama saja mubazir. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis e-commerce seperti menemukan tempat persemaian yang tepat di Indonesia. Semua syarat untuk perkembangan bisnis berbasis Internet terpenuhi, mulai dari pasar berupa jumlah penduduk hingga dukungan jaringan Internet berkat masifnya penetrasi ponsel pintar.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan jumlah pengguna Internet di Indonesia pada 2014 telah mencapai 82 juta orang. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-8 untuk jumlah pengguna Internet terbanyak di dunia.

Sejalan dengan penetrasi pengguna Internet, Kementerian Perindustrian memprediksi bisnis e-commerce bakal tumbuh hingga 70% pada tahun ini. Pertumbuhan e-commerce terutama ditopang oleh konektivitas dan karakter penduduk Indonesia yang sangat adaptif terhadap produk baru.

Hadi Wenas, CEO PT aCommerce Solusi Lestari mengatakan saat ini permintaan barang di toko online sangat tinggi sementara supply sangat terbatas. Edukasi belanja online yang mulai menjamur sejak tahun 2007 berjalan cepat sehingga mendorong peningkatan transaksi.

Saya prediksi 5 tahun lagi, transaksi e-commerce akan meningkat sepuluh kali lipat dari posisi sekarang. Kami kurang supply karena pemintaan sangat banyak,” ujarnya pada Talkshow Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Wenas menuturkan saat ini 80% permintaan belanja online berasal dari kota di luar Jakarta. Padahal ketika e-commerce mulai, 80% permintaan berasal dari Ibu Kota. Saat ini pangsa perminataan belanja online dari Jakarta hanya 20% saja sementara sisanya berasal dari kota di luar Jakarta khususnya dari Indonesia Timur.

Dia menjelaskan tingginya permintaan dari luar Jakarta karena toko offline atau pusat perbelanjaan baru akan memasarkan produk terbaru setelah barang itu tidak laku di Jakarta, Surabaya, Medan dan kota besar lainnya.

Untuk bisnis e-commerce, penjualan ke luar Jakarta, menurutnya, jauh lebih menguntungkan karena harga lebih mahal akibat beban biaya pengiriman sementara jumlah komplain sangat rendah.

Wenas menuturkan bisnis e-commerce pertama kali hadir di Indonesia melalui forum Kaskus (forum based) di mana seseorang menawarkan barang yang kemudian transaksi dilakukan secara offline oleh pembeli yang berminat.

Tahap selanjutnya e-commerce berkembang melalui kehadiran situs yang menyediakan lapak untuk menawarkan barang seperti Toko Bagus. Namun, transaksi masih dilakukan secara offline.

E-commerce kemudian berevolusi melalui kehadiran toko-toko dengan model bisnis b2c (business to consumer) di mana penjual memiliki stok produk yang dijual kepada konsumen dan transaksi dapat dilakukan secara online.

Dengan melihat potensi Indonesia, dalam 2 tahun ke depan semua toko yang jualan di mall akan ada toko online-nya. Kalau pemain besar seperti Matahari sudah masuk, maka yang lainnya hanya soal waktu saja,” paparnya.

Wenas mengatakan saat ini produk toko online yang banyak dibeli ialah fashion dan gadget. Namun, berkaca dari tren beberapa negara yang bisnis e-commerce-nya berkembang pesat seperti USA dan China, beberapa produk yang mulai dicari secara online ialah makanan, furniture, dan layanan jasa seperti jasa pembuat kartu kredit dan asuransi.

Salah satu contoh perusahaan yang menjual jasa secara online ialah PT Sribu Digital Kreatif yang menyediakan jasa desain logo. Founder PT Sribu Digital Kreatif Ryan Gondokusumo mengatakan potensi bisnis online sangat menjanjikan tetapi kesulitan untuk mendapatkan investor.

Pasalnya, bisnis berbasis Internet tidak memiliki aset yang dapat menjadi jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari perbankan. Alhasil, suka tidak suka mencari investor strategis merupakan pilihan yang paling realistis.

Saya menghabiskan waktu hampir 1 tahun dan bertemu dengan lebih dari 30 calon investor sebelum akhirnya investor asal Jepang, Infoteria suka dengan konsep bisnis yang saya tawarkan,” tuturnya.

Ryan menjelaskan salah satu kunci menarik investor ialah pangsa pasar dan kualitas produk. Produk bagus tanpa pasar sama saja mubazir.[]

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, internet, belanja online

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top